Ketika Kriminalitas Meningkat, Ada Apa Sebenarnya?


Sebelum saya menguraikan mengenai fenomena pembunuhan yang lagi marak di Gorontalo, berikut saya coba screenshoot dari Kita Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) BAB XIX mengenai Kejahatan Terhadap Nyawa.

Secara jelas, bahwa melakukan pelanggaran hukum seperti yang diuraikan diatas, kita bisa dikenai sanksi pidana yang tidaklah ringan, karena ini menyangkut dengan nyawa orang. Nah, pertanyaannya, kenapa malah jadi marak di Gorontalo kasus seperti ini, yang setiap harinya bukannya berkurang tapi malah menimbulkan keresahan ditengah-tengah masyarakat, pada saat moment Ramadhan, dimana orang-orang lagi menikmati nyamannya dan khusyuknya beribadah.
Beberapa tahun lalu, aksi kriminalitas (pembunuhan dan sejenisnya), marak terjadi di Batudaa-Bongomeme. marak, bahkan sampai keluar sindiran-sindiran bahwa “Batudaa-Bongomeme adalah kampung yang warganya preman”.
Jujur saja, saya yang lahir dan dibesarkan disana, merasa terusik, malu dan rasa risih dengan sindiran tersebut. Apa kami hanya diam saja? Tidak, kami mencarikan solusi, ada apa sebenarnya yang melatarbelakangi kasus tersebut. Tahun 2006 silam, saya bersama teman-teman asal Bongomeme membentuk sebuah forum yang sebagian besarnya adalah Mahasiswa.
Saat itu, kami hanya punya bisi bagaimana Bongomeme itu jadi kawasan ternyaman tanpa rasa takut akan premanisme. Pendekatan yang kami lakukan adalah dengan cara ngobrol pada beberapa keluarga, tentang dampak akan kasus kriminalitas tersebut. Kami tidak mencoba melakukan pendekatan secara langsung.
Seringkali pula, kami mengadakan kegiatan, yang juga melibatkan “tokoh preman” sebagai sponsor bahkan pembina di kegiatan tersebut. Dari situ, rasa untuk menjaga mulai terpupuk perlahan. Rasa memiliki dan menjaga pun bukan lagi tugas organ per organ, tapi jadi tanggung jawab bersama.
Tidak bisa saya pungkiri juga, sebagian besar pelaku tindakan kriminal di Bongomeme pada waktu itu adalah orang yang tingkat pendidikannya hanya sampai SMA, atau paling rendah tidak sampai lulus SD. Ini kenyataan.
Akan tetapi, menyikapi berbagai rentetan kejadian yang lagi marak saat ini, saya tidak ingin membandingkan bahwa pelaku tindakan kriminal di Bongomeme (yang orang Gorontalo bilang “patah pinsil” tersebut) yang belum memahami KUHP, yang kemudian tidak sebanding dengan pelaku kriminal saat ini, yang sebagian besarnya TKP-nya terjadi di wilayah perkotaan, yang kemungkinan juga tingkat pendidikannya lebih tinggi, dan memahami perundang-undangan yang berlaku. Wallahu ‘alam. Ini hanya sekedar analisis praduga tak bersalah dari opini tulisan saya.
Sekedar catatan juga, beberapa waktu lalu sempat jadi trending topic di twitter, bahwa tingkat kriminalitas di Gorontalo paling tinggi di Indonesia seperti yang dirangkum oleh @beritagarID dalam infografis ini.
IMG_0042Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2013 jumlah tindak pidana di wilayah Polda Sumut 40.709 kasus, dan di Gorontalo ada 3.735 kasus.
Sekadar catatan, jumlah penduduk Sumut 12,98 juta jiwa, dan Gorontalo 1,04 juta jiwa — tapi itu data BPS per 2010. Lantas tiga tahun kemudian (2013) berapa jumlah penduduk kedua wilayah? Kita hanya bisa mengira-ngira. *
Nah, jika risiko penduduk terkena tindak pidana ditilik dari jumlah per 100.000 warga di Indonesia, maka Gorontalo berkibar pada tiang tertinggi (344), dan Sumut di bawahnya (308).
Demikian data BPS, Risiko Penduduk Terkena Tindak Pidana (Per 100.000 Penduduk) Menurut Kepolisian Daerah, 2000-2013. Data itu dipublikasikan di laman BPS pada 2014.
Mengakhiri tulisan ini, saya hendak menitipkan satu pesan. Ini yang harus diwaspadai warga masyarakat. Yakni banyaknya orang yang memegang benda tajam di pinggir jalan menjelang buka puasa, waspadalah!!! jangan sampai tergoda, karena mereka yang memegang benda tajam tersebut mengupas kelapa muda (ulimu) yang bisa saja membuat Anda jadi tambah haus dan ingin segera meminumnya, sebelum adzan mahrib berkumandang.
IMG_0004
Keep Calm and We Love Gorontalo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s