Sebuah Pilihan…


Seiring dengan bertambahnya usia, gak mungkin dong kita begitu-begitu terus tanpa ada perkembangan apa-apa. Hal yang seperti ini seringkali sering memacu saya untuk terus termotivasi. Entah masih dalam tahap pemikiran tanpa action apa-apa ataupun sebaliknya.Seringkali saya sering mendengar dan sering membaca, bahwasanya hidup itu adalah pilihan. Iya, emang benar. Kalo bukan pilihan, maka namanya bukan hidup.

Berdasarkan hakikat itu, saya juga punya pilihan dalam hidup. Bagi saya, hidup bukanlah sebuah pilihan, melainkan ada beragam pilihan dalam hidup yang secara sengaja dan tidak sengaja kita hadapi. Kita seringkali tidak menyadari hal tersebut.

Sore tadi, saat saya terjebak oleh derasnya hujan yang turun disebuah kantin kampus, terlintas sebuah pikiran mengenai bagaimana hidup saya kedepannya nanti. Lama saya merenungkan hal tersebut bahkan saya sendiri tidak menyadari sudah menghabiskan 3 gelas kopi hitam yang saya pesan secara berulang kali di kantin tersebut.

“Hujan sebenarnya bukan menghalangi. Akan tetapi hujan membasahi” batin saya dalam hati sambil memandang luas ke depan dengan sajian hujan yang entahlah mungkin lagi turun dengan marah-marah

Hingga akhirnya, sampai pada gelas ke-3 kopi hitam yang saya nikmati sore itu, saya belum juga bisa menarik kesimpulan akan bagaimana pilihan saya untuk menjalani pola hidup kedepannya nanti.

Awalnya, saya merasa bimbang. Akan sebuah pilihan yang saya ambil nanti. Salah mengambil pilihan hari ini, dampak dan resikonya sudah menanti. Bukan tidak mungkin, semua pilihan itu pasti ada resikonya masing-masing. Nah, kita bertugas untuk meminimalisir agar bagaimana resikonya nanti kedepannya.

Break sejenak dulu, ada yang mau lewat…

Saat ini, usia saya sudah menjalani yang ke-29 tahun. 4 tahun belakangan berprofesi sebagai abdi negara (saya tidak pernah mau menyebut bahwa saya adalah Pegawai Negeri Sipil. kapan-kapan kalo kita bertemu, silahkan pertanyakan ulang yaa. Saya ada argumentasi tersendiri untuk hal ini).

Dan selama 4 tahun ini pula, saya mengabdi disatu tempat, dimana saya harus melewati sungai, mendaki gunung dan keluar masuk hutan (kalo gak ingin saya katakan sebagai daerah terpencil). Awalnya sih memang terasa berat, bagaimana saya harus menjalani keseharian tersebut dengan berbagai rintangan yang harus saya hadapi. Rintangan terbesar yang seringkali saya hadapi bukanlah medan-nya, melainkan sesuatu yang mengganjal dihati saya. (Emangnya apa itu? Maaf, rahasia pribadi saja yaa. Takutnya saya malah terkesan ngeluh, gak bakalan barokah rezeki kalo keseringan mengeluh…) hehehe…

Saya itu orangnya memang sangat menyukai tantangan. Tantangan saya ciptakan dalam bentuk masalah. Memang sih, tanpa harus dicari, masalah kerapkali mendatangi kita juga. Sudah jadi hukum alam mungkin. Ketika hidup tanpa masalah, tanpa adanya sebuah tantangan yang kita hadapi, maka kita akan merasa bahwa hidup ini seolah stagnan, pada akhirnya kita yang malah tak berkarakter karena tidak terbiasa menghadapi masalah.

Sekilas, saya berpikiran untuk menghadapi hidup biasa-biasa saja, yang kemudian masuk dalam zona nyaman. Ketika kita sudah memasuki zona tersebut, dijamin deh, hidup kita bakalan mengasyikan. Semua orang gak bakalan memungkiri hal tersebut, bahkan saya sendiri gak bakalan mendustai hal tersebut. Munafik jika kita mengingkarinya.

Namun, jika terus menerus kita berada dalam zona tersebut, kita tidak akan terlatih untuk bagaimana memanage bagaimana kita hidup, bagaimana dengan apa yang kita jalani. Hingga pada akhirnya, malah begitu-begitu terus yang kita hadapi.

Semenjak saya kuliah, yang kemudian saya bekerja, saya jarang sekali berada dirumah (jika ditotal, sudah sekitaran 9 tahun saya jarang tinggal dirumah) Saya lebih memilih hidup dengan cara tinggal di kost ataupun mengontrak rumah. Yang tentunya, pola hidup tersebut berbeda dengan ketika tinggal dirumah sendiri bersama orang tua, yang saat makan dan tidur kita gak bakalan pusing sampai putaran ke-7.

Pada intinya, saya lebih suka untuk hidup dengan penuh tantangan. Karena dengan begini, saya bisa melatih karakter saya kedepannya akan seperti apa dan bagaimana. Saya tidak mau pasrah begitu saja pada nasib, pasrah pada keadaan. Akhir kata, ada satu hal yang terus saya tanamkan dalam hati, hingga melekat sampai saat ini….

“tidak ada pelaut ulung yang dilahirkan dari samudera yang tenang, tapi ia akan dilahirkan dari samudera yang penuh terpaan badai, gelombang dan topan”

Sekian….

NB: Sebenarnya, ada curhat terselubung yang hendak saya ceritakan disini, namun karena keasyikan menulis, menulis, dan menulis, saya malah bingung untuk menaruh pokok curahan hati tersebut dibagian mana. hahaha.. jadi, sekedar ini saja dulu tulisan saya kali ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s