Tentang Keranda Ayini Wahidji..


Ngantuk, tapi gak bisa tidur. Mungkin pengaruh 4 gelas kopi yang saya ‘hantam’ tadi sore sambil menikmati senja yang perlahan beranjak menuju peraduannya. Saya itu memang begitu, selalu terbuai dengan suasana alam semesta yang kadang sering berubah. Kalo gak bisa tidur begini, paling juga saya melewatkannya dengan membaca buku, biar ngantuk cepat datang. Tapi kali ini agak susah juga.

Iseng-iseng browsing, buka facebook. Diberanda utama, ada photo suasana dirumah duka alm. Ayini Wahidji yang seingat saya diposting tanggal 26 Desember 2013, tapi masih saja bertengger di beranda. Ternyata, photo tersebut masih aktif dikomentari. Sehingga memungkinkannya untuk terus bertengger di beranda.

Next….

Photo tersebut adalah photo sebuah keranda yang biasanya digunakan untuk mengangkut mayat dari rumah duka menuju kuburan. Photo yang diupload oleh Rosyid Azhar tersebut melahirkan sebuah perdebatan yang sangat positif, sehingga bisa menambah wawasan tersendiri bagi setiap orang mengenai adat yang berlaku di Gorontalo. Sebenarnya, ada sedikit perdebatan yang lahir dari setiap komentar di photo tersebut, mungkin agak menjurus ke perdebatan individual. Namun, melalui postingan ini saya hendak menuliskan kembali sebuah postingan dari komentar di photo tersebut (tidak semuanya, hanya sebagian saja)

suasana rumah duka dikediaman alm. Ayini Wahidji
suasana rumah duka dikediaman alm. Ayini Wahidji

Dari photo tersebut, Toti Lamusu memberikan beberapa komentar menarik. (hemat saya, beliau ini adalah orang yang bisa saya jadikan rekomendasi untuk mencari tahu berbagai hal mengenai adat yang berlaku di Gorontalo). Toti Lamusu mengatakan bahwa terdapat kesalahan warna pada keranda tersebut. Berikut uraiannya

“ada kesalahan warna keranda ini , harusnya kalau yang meninggal masih perawan/bujang bisa menggunakan warna salem atau kuning gading . ini sudah warna wanita usia lanjut atau wanita dewasa yang sudah makan banyak asam garam kehidupan”

‘tombutungo’ nya (bunga pojok keranda agak ketinggian . tanggal 24 desember di samping kelurahan kampung tenda ada yang meninggal , tapi ketika lewat hanya payungnya saja yang sudah siap , kerandanya belum

Lebih lanjut, Toti Lamusu menguraikan bahwa warna adat yang terlihat di keranda tersebut sangatlah penting buat warga Gorontalo. Dengan hanya melihat saja tanpa bertanya lewat warna yang digunakan, kita menjadi tahu siapa yang meninggal.

“Kalau kita bicara soal budaya gorontalo, soal warna ini sangat penting dan tidak sepele” sekali lagi ditegaskan oleh Toti Lamusu mengenai khas adat daerah Gorontalo tersebut.

Komentar diatas sekilas nampak sesuatu yang sederhana, meskipun begitu sarat mengandung banyak makna yang tentunya tidaklah bisa kita sepelekan begitu saja. Bagaimanapun juga, daerah Gorontalo merupakan daerah yang selalu menomorsatukan persoalan adat. Pokok pembahasan Toti Lamusu tersebut ada benarnya. almarhum Ayini Wahidji masih seorang perawan (perempuan yang belum menikah) sehingga seharusnya memiliki adat tersendiri dalam hal ‘ceremony pemakaman’ tersebut

Saya jadi lupa, kalo sebenarnya saya tadi sementara berusaha cari hiburan dengan buka-buka facebook, guna mengusir rasa bosan karena gak bisa tidur. Setelah membaca satu persatu perbincangan di photo ini, saya malah jadi tertarik dan rasa ngantuk pun malah hilang sama sekali. Hehehe.

Saya malah merasa bersyukur bisa dapatkan wawasan baru mengenai adat istiadat Gorontalo itu sendiri, yang selama ini bagi saya terasa ‘buta’. Begitu pula halnya setelah mendengar kabar bahwa pada tahun 2014 akan ada 5 buku mengenai adat Gorontalo (yang berdasarkan data dari Museum Leijden, di Belanda) yang akan diterbitkan, sehingga dapat memberikan pencerahan tentang Gorontalo ini sendiri.

sekian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s