Ayini Wahidji, Sampai Jumpa Dikehidupan yang Lain


Seringkali saya bertanya dalam kesendirian, kalo aku pergi bagaimana nantinya aku dikenang? Pergi dan harus meninggalkan segalanya, bukan untuk pergi  tanpa harus kembali lagi. Sebuah renungan yang terus membatin dalam naluri batinku tanpa harus aku cari jawabannya juga. Karena pada hakikatnya, setiap pertanyaan pula tidak membutuhkan jawaban.

Siang itu, aroma wangi bunga kamboja dari sekitar pemakaman masih terasa menyengat. Sementara itu, sinar matahari dari tadi masih terus menyengat, tapi tidak membuat saya harus mengelap keringat karena masih sempat berteduh dibawah pohon kamboja yang usianya mungkin sudah puluhan tahun.

Saya melirik jam tangan, saat itu sudah menunjukan pukul 11 lewat 10 menit. Para pelayat yang kebanyakan mengenakan kain serba putih berangsur meninggalkan pemakaman. Tidak terlihat lagi sesak diarea pekuburan siang itu.

Siang itu, saya datang melayat kepergian seorang teman, mengantar kepergiannya untuk terakhir kalinya, menitipkan doa untuknya yang sudah beristirahat selama-lamanya dialam sana menuju singgasana surganya. Menghadapi kehidupan abadinya, meninggalkan dunia yang penuh dengan fatamorgana yang beragam cerita dan kisahnya.

Kita tidak akan pernah tahu, kapan kita akan pergi untuk saling meninggalkan yang kemudian saling merindukan, yang entahlah pula bertahan sampai kapan, berapa lama. Kita tidak akan pernah tahu hal tersebut. Akan tetapi, dibalik setiap peristiwa pasti ada alurnya tersendiri yang kita tanpa sadari mengalir dalam batin kita.

Ayini Wahidji. Orang seperti kamu, pasti akan selalu dikenang. Saya sendiri pastinya tidak akan melupakan sosok sahabat seperti kamu. Semua topik diskusi kita tentang banyak hal, semua cerita kita tentang mimpi-mimpi bagaimana membangun negeri ini, utamanya tentang Gorontalo ini, akan saya kenang juga. Ah, kadang saya pengen senyum-senyum sendiri saja kalo ingat itu, saat kamu mengatakan kenapa bukan orang-orang seperti kita yang dapat kesempatan untuk membuktikan pengabdian terhadap negeri ini tanpa harus diselingi oleh kemunafikan dan kenaifan kita? Atau mungkin karena kita masih muda, sehingga gejolak kita begitu membara? hahaha, saya ingat betul itu.

The last but not last time, selamat jalan dan beristirahatlah dengan tenang dialam keabadian. saya tahu, kamu suatu tertawa keras saat  baca tulisan sederhana saya ini. Sampai kemudian, 4 buah durian, 1 piring pisang goreng, 4 gelas kopi, akan meneduhkan suasana kebersamaan kita dulu bareng teman-teman. logika tanpa logistik, hasilnya anarkis. hehehehe.

Ayini Wahidji, sampai jumpa dikehidupan yang lain… 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s