Tentang Surat Milanista kepada Il Capitano Inter Milan…


Kadang, terlalu fanatik itu gak baik juga. Apalagi sifat fanatisme tersebut berlaku pada klub sepakbola favorit kita. Simple saja sih sebenarnya, “we’re rival, not enemy”. Sebenarnya kalimat itu jadi penegasan bahwa kita seharusnya gak saling bermusuhan hanya karena kita berbeda klub sepakbola favorit. Meskipun iya, biarkan rivalitas itu hanya berlangsung pada lapangan hijau kala dua klub favorit kita bertanding, selebihnya? we’re friend bro… Semoga saya bisa menerapkan ini juga.

Kemarin, saya sempat membaca sebuah postingan di tumblr mengenai surat seorang Milanista kepada Javier Zanetti, sang kapten Inter Milan. Dan semua orang tahu, bagaimana rivalitas antara AC Milan dan Inter Milan dilapangan hijau. Akan tetapi, yang menarik perhatian saya disini adalah mengenai surat terbuka yang dikirim oleh orang yang bernama Edward tersebut kepada Il Capitano Inter Milan.

Menariknya lagi, surat terbuka tersebut dibalas oleh Javier Zanetti secara langsung juga, setelah isi surat tersebut diterjemahkan oleh Marini Saragih yang juga seorang penggemar AC Milan, yang secara pribadi juga diucapkan terima kasih oleh Javier Zanetti.

Dalam suratnya Eddward Samadyo Kennedy yang juga memperkenalkan diri berasal dari Indonesia menegaskan beberapa hal. Dalam pembuka suratnya, Edward sempat mengemukakan tentang awal mengenal diri Javier Zanetti dalam sebuah event akbar yakni Piala Dunia 1998. Dan semenjak itu pula, Edward terus mengikuti perkembangan Zanetti.

Terus mengikuti perkembangan Zanetti, ada satu hal juga yang dikritisi olehnya, yakni mengenai gaya rambut Zanetti yang tidak pernah berubah-ubah semenjak dia mengenal dan terus mengikuti perkembangan Zanetti. Saya juga sempat berpikiran begitu, kok bisa ya, Zanetti tetap mempertahankan gaya rambutnya yang begitu-begitu saja, beda dengan pemain sepakbola ternama lainnya. Disatu sisi juga, Edward menekankan bahwa Zanetti seharusnya ikut perkembangan zaman, belum lagi sang pemain sepakbola tersebut bermain dan tinggal di kota mode yang terkenal didunia yang memiliki beberapa hairstylist ternama juga.

Hahaha… disini saya mengacungi jempol deh sama Edward, sang penggemar AC Milan tapi menaruh perhatian ke hal-hal yang kami Interisti sekalipun tidak pernah terpikirkan.

Edward juga turut bersimpati atas kekalahan yang diderita Inter Milan kala melakoni laga kandang menghadapi Bologna, padahal pada pertandingan tersebut merupakan sesuatu yang spesial bagi Javier Zanetti, yakni pada saat itu dia melakoni laganya yang ke-600 di kancah Serie-A Liga Italia dan yang kedua adalah Inter Milan baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-105.

Sempat disentil juga mengenai rekor penampilan pribadi Zanetti, yang bagi Edward sendiri sangat meyakini bisa melewati rekornya Paolo Maldini yang notabenenya legenda AC Milan, klub yang diidolakan Edward.

Menarik saya membaca surat yang dilayangkan Edward tersebut yang kemudian mendapat tanggapan secara spesial juga dari Javier Zanetti yang membeberkan secara panjang lebar. Dalam balasan suratnya, Zanetti pun banyak bercerita mengenai semua apa yang dikemukakan Edward tersebut, begitu pula halnya dengan rekor penampilan pribadinya yang tidak dipungkiri oleh Zanetti bahwa dia mengejar rekor tersebut dan ingin melampaui rekor Paolo Maldini.

Bahkan Zanetti pun mengakui sangat tersanjung dengan surat terbuka yang dilayangkan Edward tersebut, pada petikan pembuka suratnya berbunyi begini: “Bolehkah aku menulisnya tanpa kata-kata “dengan hormat”? Bukannya tak ingin menghormatimu, tapi aku sangat tersanjung dengan surat yang kau sampaikan kemarin. Surat sederhana yang bagiku menjadi teman bernostalgia yang paling tepat tentang segala sesuatu yang aku jalani selama ini. Dan terlebih lagi kau seorang Milanista. Tak seorang Interista pun melakukan apa yang kau lakukan”

Sebuah tanggapan yang sederhana tapi luar biasa, saya tidak bermaksud untuk mengangkat maupun merendahkan penafsiran dari isi surat ini, akan tetapi bagi saya ini adalah jalinan hubungan yang menarik, antara sang idola dan penggemarnya, yang selama ini kita ketahui ada terlalu banyak sekat yang seakan jadi jurang pemisah. Namun, disini seakan tidak nampak jurang pemisah tersebut.

Dalam suratnya juga, Zanetti menceritakan mengenai karir perjalanannya, baik dan buruk apa yang dia lakoni saat bermain sepakbola, dia ceritakan juga. Saya sendiri baru mengetahuinya setelah membaca isi balasan surat tersebut, padahal saya sendiri sudah menggemari Inter Milan semenjak tahun 1999, dan atau mungkin saya sendiri yang tidak terlalu mengikuti perkembangan sejarah klub yang saya cintai ini. Tapi sudahlah, hal itu tidak jadi masalah jika saya sendiri ingin terus mencari tahu dan mempelajari mengenai klub favorit, dengan maksud untuk menambah wawasan saja, bukan sebagai bahan untuk beradu argumen gelap, terlebih-lebih dengan penggemar klub lain.

Semoga kita bisa, seperti mereka. Saling hidup rukun, akur dan tetap bersahabat meskipun beda klub favorit.

Demikian review saya kali ini, mengenai dua sisi berbeda yang selama ini kita jarang dapatkan, meskipun toh sebenarnya ada banyak hal yang beginian diluar lapangan sana, tapi tidak terlalu kita ketahui. Mungkin saja karena kita jarang update mengenai hal tersebut. Berikut saya lampirkan link surat Edward kepada Zanetti dan kemudian surat balasan Zanetti kepada Edward. Postingan isi suratnya saya sadur kembali ke blog saya, sebagai bahan koleksi saja dan tidak bermaksud untuk apa-apa lagi. Sengaja saya posting kembali untuk menghindari hilangnya link dari sumber awal.

Surat Edward kepada Javier Zanetti

Surat Balasan Zanetti kepada Edward (Milanista)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s