Surat Milanista kepada Javier Zanetti


Kepada Yth.

Tuan Javier Zanetti

Dengan hormat,

Ada yang perlu diperjelas sebelum saya menuliskan inti dari surat ini. Perkenalkan, nama saya Eddward Samadyo Kennedy dan berasal dari Indonesia. Anda tahu kan’ Indonesia? Tentu Anda ingat, ketika tim Anda, Inter Milan, tur ke Indonesia tahun 2012 lalu, Anda dan beberapa penggawa lain pernah tampil di sebuah acara musik ternorak sepanjang sejarah yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta di sini.

Sebagai seorang penggemar sepakbola, saya merasa senang dapat mengikuti kiprah Anda hingga sekarang. Kalau ingatan saya tak silap, saya mulai mengenal nama Anda sejak Piala Dunia 1998 silam. Ada sebuah momen yang saya ingat betul. Kala itu Anda menyumbang satu gol ke gawang Inggris di babak 16 besar melalui sebuah proses set-piece yang brilian. Menerima sodoran  bola pelan dari Juan Sebastian Veron, Anda langsung dengan cepat menendangnya. David Seaman hanya bisa melompat tanpa mampu menjangkau bola.

Gol tersebut kemudian mengubah skor menjadi 2-2. Laga pun berjalan hingga babak adu penalti karena tak ada gol yang tercipta. Dan seperti babak adu penalti yang sudah-sudah, Inggris tentu kalah. Argentina lalu meluncur ke babak delapan besar, berjumpa dengan seteru kuat lain, Belanda. Sayang, kegelimangan Anda dan Argentina mesti berhenti setelah Dennis Bergkamp mencetak gol indah di menit 89’.

Sejak Piala Dunia 1998 itulah saya mengenal Anda. Seiring berjalannya waktu, saya terus mengikuti kiprah Anda, mencari tahu seluk beluk riwayat hidup Anda di masa lampau. Dalam proses pencarian tersebut, ada sebuah fakta menarik dari hidup Anda yang saya temui: tentang rambut Anda yang tak pernah berubah bentuk.

Fakta tersebut menggelikan, menurut saya. Tapi, ayolah, Anda hidup di salah satu pusat mode dunia, dengan gaji dan kehormatan yang sama besarnya. Anda bahkan bisa saja menyuruh Rodolfo Valentin untuk datang langsung secara privat ke rumah Anda untuk memberikan cukuran rambut terbaik yang dapat diberikan seorang hairstylist.

Saya tak mengerti mengapa Anda tak pernah melakukannya. Anda secara kontinu menjaga ,bentuk rambut belah pinggir Anda yang rapi itu. Sekali waktu, saya ingin sekali memberikan Anda satu stel seragam lurah di Indonesia. Saya kira, dengan tatanan rambut seperti sekarang ini, Anda akan sangat cocok mengenakan seragam berwarna hijau muda itu. Tapi, ngomong-ngomong, di Argentina juga ada lurah ga’ sih?

Saya kira masalah tatanan rambut ini penting. Pertama, Anda adalah kapten Inter Milan, kota yang seperti tadi saya bilang, adalah salah satu pusat mode dunia. Menjadi bintang di Milan adalah sebuah kemahsyuran tersendiri. Mantan rekan setim Anda dulu, Taribo West, sejatinya telah memahami hal tersebut. Anda ingat bukan bagaimana ia menata rambut? Oh, Tuhan, sungguh tatanan rambut yang sangat artistik.

Melihat bentuk rambut West tak ubahnya seperti tengah memandangi sebuah produk seni instalasi di Tate Museum dengan segelas teh hangat di musim semi yang cerah: semua terasa begitu tentram dan indah. Saya kira, seharusnya Quentin Tarantino memilih West untuk menjadi pemeran utama di Django Unchained, bukan Jamie Foxx. Anda setuju?

Poin kedua soal rambut tadi adalah perihal fisik Anda yang rupawan. Sebagaimana orang Argentina kebanyakan, Anda terlahir dengan bentuk fisikal yang bagus. Yah, dibanding Wayne Rooney yang kata orang agak mirip Shrek itu, paras Anda jauh lebih baik. Oleh karena itu, penting jika Anda memiliki sikap narsis yang lebih besar. Setidaknya, Anda memiliki kesadaran perihal ketampanan wajah Anda.

Tidak, untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, Anda tak perlu mencoba gaya rambut Gervinho yang monumental itu, menumpahkan seluruh minyak rambut Anda dalam satu pertandingan seperti Cristiano Ronaldo, atau membeli wig kribo seperti Maurone Fellaini. Cukup model rambut yang populer, seperti mohawk atau spikey.

Atau bisa juga Anda ganti warna rambut. Bukan, bukan seperti Dennis Rodman. Anda tak perlu memilok-milok rambut Anda warna-warni seperti itu, terlalu mencolok dan norak. Anda bukan mau lulus-lulusan SMA, kan? Mungkin warna brunette atau blonde sepertinya cocok dengan wajah Anda.

Sebentar deh, ini kenapa, ya, saya mendadak jadi berbicara panjang soal filosofi rambut? Ah, entahlah. Saya hanya senang dapat menuliskan surat ini di hari di mana Anda sudah menorehkan catatan luar biasa: memainkan laga ke-600 bersama Inter di Serie A. Kendatipun Inter kalah dari Bologna 0-1 tadi malam, apa yang telah Anda lakukan sudah kadung monumental.

image

Jersey Javier Zanetti Prezense Serie A #600

Anda sudah mengalahkan nama-nama tenar di Serie A untuk urusan penampilan terbanyak. Salah satunya adalah Giuseppe Bergomi, mantan mentor Anda di Inter yang telah memainkan 519 caps. Bahkan Anda juga telah melampaui catatan Gianluca Pagliuca. Mantan rekan setim Anda yang pernah mengaku tidur dengan 1000 perempuan ini sebelumnya pernah melakoni 592 laga sepanjang karirnya di Serie A.

Kini, dengan torehan 600 laga, Anda tinggal terpaut 47 angka dari Paolo Maldini, salah seorang legenda lain yang bermain di klub rival Anda, AC Milan, yang sudah bermain di 647 laga di Serie A. Tapi, Maldini sudah pensiun jauh-jauh hari, sementara Anda menegaskan masih akan memperpanjang kontrak selama satu musim lagi bersama La Beneamata.

Dalam hitung-hituangan saya, jika Anda terus bermain di sisa 10 pertandingan Inter di Seri A musim ini, ditambah dengan terus bermain di sepanjang 38 laga di musim depan, Anda bisa saja mengalahkan rekor Maldini dengan torehan 648 partai. Bukan hanya itu, Anda juga akan tercatat sebagai pemain luar Italia pertama yang melakukannya. Sungguh luar biasa.

Ah, tapi saya tak tahu apakah Anda orang yang peduli dengan rekor individu. Menurut pandangan saya, Anda bukanlah tipe pemain megalomaniak yang dengan sengaja terjun bebas ke dalam kerumunan komersialisasi dan hiruk pikuk media. Anda adalah orang yang lebih mementingkan stabilitas tim tak hanya dalam ucapan, tapi juga dalam praktiknya di lapangan.

Ketika posisi asli Anda diutak-atik oleh Roberto Mancini, misalnya, dari seorang bek kanan menjadi gelandang kiri, Anda tak mengeluh. Anda bahkan menjalankan instruksi tersebut tak hanya dengan sikap ksatria, tapi juga dengan permainan kokoh juga tangguh.

Lalu, ketika Jose Mourinho datang dan memberikan tempat Anda (bek kanan) kepada Maicon—sementara Anda ditaruh sebagai gelandang kanan—Anda juga tak banyak cakap. Anda justru dengan gemilang sukses membawa Inter sebagai tim pertama dari Italia yang meraih treble winners.  Bahkan ketika Gian Piero Gasperini menempatkan Anda sebagai bek tengah dalam skema 3-4-3 andalannya, Anda juga sama sekali tak membantah.

Tuan Zanetti yang terhormat, barangkali Anda memang sedikit dari ribuan pesepakbola yang berjaya di lapangan tanpa perlu banyak berkata-kata. Kita sama-sama tahu, Inter di era 90-an hingga 2000-an awal adalah sebuah klub pesakitan yang kaya raya. Satu-satunya hal terbaik dari Inter saat itu adalah mempopulerkan cara memecat pelatih dalam periode sesingkat mungkin dan menyia-nyiakan bakat pemain.

Anda  tentu ikut merasakan betapa pahit rasanya menjadi tim yang beberapa kali nyaris menjadi juara. Bagaimana dicurangi, bagaimana pula mendapati fans yang bertindak rasis kepada pemain lawan. Tapi, sebagaimana julukan Anda, “El Tractor”, Anda melibas semua momen-momen getir itu dengan dada yang lapang. Sejak ban kapten itu melingkar di lengan Anda pada 29 Agustus 1999, Anda tahu bahwa tak ada gunanya menyalahkan nasib. Perubahan harus dibentuk, bukan terbentuk, bukan terberi begitu saja.

Sikap itu pula yang membuat Anda tanpa tedeng aling-aling turut mendukung gerakan Zapatista di Mexico, sebuah solidaritas otonom yang mendukung gerakan adat masyarakat Chiapas. Bahkan, Anda nyaris membuat pertandingan amal antara Inter dengan Zapatista XI. Sayang, laga tersebut tak terjadi. Kenapa, ya?

Padahal, rencana laga tersebut sudah tersusun rapi. Saya sempat membaca surat Subcomandante Marcos kepada Massimo Moratti tentang hal ini. Kala itu, pria ikonik itu berencana akan mengundang Diego Maradona sebagai wasit, lalu Jorge Valdano dan Javier Aguirre akan menjadi asisten. Socrates, salah seorang legenda Brasil yang mahsyur itu, diplot sebagai wasit keempat.

Sementara itu Eduardo Galeano dan Mario Benedetti akan menjadi komentator di televisi ala Zapatista yang disebut ‘Zapatista System of Intergalactic Television, the only tv to be read not watched.’ Dengan selingan hiburan dari para gay dan lesbian, sekaligus transgender. Singkat kata, televisi Zapatista adalah televisi bagi mereka yang termarjinalkan dapat tayang secara utuh tanpa perlu menghitung laba dari ratting.

Tapi, meski laga itu batal, saya tahu kepedulian Anda terhadap gerakan Zapatista—dan tak tertutup gerakan solidaritas lainnya—tak luntur. Saya ingat Anda pernah menulis surat kepada Marcos sekaligus bantuan 5000 euro pasca penyerangan paramiliter yang menimpa Zapatista di sebuah desa di perbatasan Mexico-Guatemala.

‘We believe in a better world, in an unglobalised world, enriched by the cultural differences and customs of all the people.  This is why we want to support you in this struggle to maintain your roots and fight for your ideals.’

Saya akan segera menutup surat ini dengan sebuah rasa bangga, rasa bangga karena pernah menonton Anda, meskipun di televisi, bisa menyelidiki semangat Anda untuk kemanusiaan, bisa melihat lebih jauh siapa Anda sebagai seorang manusia.  Untuk masalah rambut di atas, saya kira Anda harus memperhatikannya benar-benar. Ingat, kata sebuah pepatah tua, hidup pria sesungguhnya dimulai ketika usia 40 tahun.

Dan, 10 Agustus mendatang, usia Anda sudah 40, kan?

Tertanda,

Edward S.K, seorang Milanisti

(Source: bolatotal.com)

sumber

One thought on “Surat Milanista kepada Javier Zanetti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s