Hasil Dialog Dengan Dinding Kamar…


Hai, kamu lagi ngapain? Masihkah kamu memikirkanku seperti aku yang pernah memikirkanmu? Aku bukannya cuma pernah memikirkanmu, tapi tetap memikirkanmu. Bukan untuk menyakiti diriku sendiri akan tetapi sebuah bentuk tanggung jawabku untuk bagaimana menghargai diri sendiri, bukan dikala bahagia akan tetapi disaat-saat seperti ini, tanpa hadirmu lagi…

Aku mau cerita satu hal, ini mungkin cerita basi, yang sudah berulang kali kamu dengar. Terserah kamu beranggapan apa. Namun aku menganggap ini adalah bentuk introspeksi terhadap diriku sendiri. Kenapa kamu meninggalkanku, kenapa mereka meninggalkanku, kenapa aku tetap sendiri, hingga diusia saat ini.

****

Disuatu malam, aku bertanya. Bagaimana kabarmu?

Hening…

Yang ada hanya suara jangkrik yang memecah kesunyian malam. Karena kamu tak disampingku, aku hanya sendiri saat itu.

“Sebenarnya, aku sih mengerti dengan apa yang pernah kau rasakan”

“Kita kan pernah sama-sama merasakan indahnya kebahagiaan, sehingga kita merayakannya bersama juga”

“Jujur saja, aku pernah mengatakan semuanya baik-baik saja disaat segala sesuatu berada dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Sama halnya seperti kamu, yang merasakan ini disaat kita muak pada berbagai hal yang memang memuakan. Kita seperti hidup dalam kepalsuan belaka yang semuanya hanyalah kepura-puraan belaka. Ya nggak?”

“Dulu sih, kita beranggapan bahwa kamu adalah aku, dan aku adalah kamu. Sehingga, aku dan kamu adalah kita. Itu sih dulu, sekarang mana mungkin?”

Mohon maaf ya, aku berandai-andai dikit. Gak banyak kok…

Aku ingin mendatangi sisi gelap hatimu, sebentar saja. Kemudian kita saling bercerita, berbicara dan membahas berbagai hal. Kita ceritakan apa yang memang kita rasakan, kita bongkar semuanya, tanpa kepalsuan dan atas landasan harapan-harapan yang cuma palsu”

Hingga kemudian, aku mengungkapkan semua yang aku rasakan kepadamu. Ya, aku mengungkapkan semuanya disaat aku duduk disampingmu, disuatu senja yang jingga, sebelum adzan magrib berkumandang”

“Aku gak ingin memaksakan kamu harus berada disini, gak memaksa kamu harus masuk juga ke dalam arus putaran keinginan hati ini. Kamu berhak kok untuk memutuskan apa yang memang kamu inginkan, tanpa harus aku mengintimidasi. Soal rasa kan memang gak bisa dipaksain, itu ya urusanmu dan bukan urusanku”

“Aku gak mau, semua terjadi atas landasan keterpaksaan saja, dan aku ngerti kok dengan apa yang ada dihatimu. Aku sih yang penting sudah mengungkapkan semua”

“Jika ingin ditanya dari lubuk hatiku yang terdalam, aku pengennya kamu masuk ke dalam arus putaran hati ini, kemudian bersama kita merangkai apa yang kamu pikirkan dan apa yang aku pikirkan. Simple saja sih sebenarnya….”

Dari sebuah “Perjalanan Rasa” aku mencoba mengutip sebuah ungkapan. “Kamu gak usah berpikiran bahwa semuanya akan baik-baik saja, sempurna dan tanpa kesalahan sedikitpun. Gak usah pikirkan hal itu. Sebab kita memang diberi ruang dan kesempatan untuk membuat segalanya tidak baik-baik saja kan?” – fahd djibran

Syukur Alhamdulillah, jika seperti yang diungkapkan diatas tidak berjalan sebagaimana mestinya, dengan begitu diantara kita masih diberi ruang, waktu dan kesempatan untuk memperbaikinya.

Memang sih, kita gak akan luput dari berbagai macam problematika hidup. Lagian juga, hidup gak bakalan seru deh jika tanpa hadirnya masalah. Masalah yang bisa membuat kita tegar kok, untuk bagaimana nantinya kita menghadapi hidup ini. Jika seandainya dari masalah itu kita ambil hikmahnya kemudian kita jalankan teori yang sudah kita petik dari situ.

Hingga nanti disuatu hari, berangkat dari apa yang aku pikirkan diatas, aku ingin kembali dan terus berjalan melintasi separuh sisa hidupku untuk tetap terus komitmen terhadap tanggung jawab, karena ini bagian dari bentuk yang sudah kita terima kodratnya semenjak kita lahir, bahwa sesungguhnya kita untuk apa lahir ke dunia ini.

Suatu saat kamu kembali dan mempertanyakan tentang cinta ini, santai aja. Kamu gak usah khawatir kok. Karena seharusnya kamu tahu, cinta itu tetap ada kok. Nah, untuk apa dan untuk siapa cinta itu, kita serahkan saja kepada semesta untuk menentukan nasibnya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s