ketika AKU dan KAMU bukan lagi KITA !!!


Jika aku itu ibarat matahari, kamu aku ibaratkan bulan. Begitu juga jika aku ibarat malam, maka kamu adalah pagi. Pertanyaan selanjutnya, kapan kita bisa bersama, bertemu disatu titik, menjadi sebuah rangkaian cerita yang begitu indah. Tidak akan pernah? Iya, karena kita memiliki begitu banyak perbedaan yang tidak mungkin bisa dipersatukan.

Kita rubah takdir saja, sebab itu hanya akan membuat kita tidak bisa bersama.

Maka jika kamu aku ibaratkan setangkai bunga yang begitu wangi di taman, maka aku adalah kumbangnya, yang selalu menghinggap di tangkaimu, memadu kasih cinta dan berbagi rasa. Setiap saat, kapan pun kita mau. Harusnya kita begitu. Atau kalo nggak, aku jadi batu karang yang tegar di pantai saja sedangkan kamu adalah ombaknya, yang setiap saat juga menghempaskan rasa rindumu.

Kisah ini begitu indah, hingga saatnya kita dipertemukan. Ya, saya dan kamu akan jadi kita ketika bertemu.

“Hai, saya Steven. Panggil saja Even” kataku sambil menyodorkan tangan tanda jabatan tangan.

Aku ….. (nama disamarkan)” katamu sambil menolak ajakan jabat tanganku.

Tapi saat itu, senyum kita yang bertemu, saling mengenali satu sama lain, hingga masuk ke dalam nurani kita masing-masing.

Kemudian kita beranjak menuju ke sebuah cafe kecil depan masjid di pinggir jalan yang malam itu makin ramai.

“Mbak, pesan dua gelas minuman dingin yaa…” seruku terhadap penjaga cafe kecil tersebut.

“Aku sudah banyak tahu tentang kamu” ujarku saat mengawali perbincangan denganmu malam itu. Aku berharap kamu tersenyum. Ya, kamu akhirnya tertawa sehingga matamu yang begitu indah hampir tidak kelihatan. Matamu yang selama ini aku anggap sebagai tempat berlabuhnya matahari di kala senja, yang begitu indah dipandang.

Barangkali, kamu saat itu bertanya-tanya, kenapa bisa aku mengetahui tentang kamu, sedangkan kita baru saja kenalan dan bertemu?

“Aku sudah lama mengagumimu….” ucapku lirih yang mungkin saja semut tidak bisa mendengarnya, kecuali hatimu yang terdalam yang bisa mendengarnya meskipun aku mengucapkan hal itu secara lirih dengan dorongan perasaan yang sulit dipendam.

Dua gelas minuman yang dipesan diantar. Kita mendadak hening bersamaan. Sunyi.

“Thanks yaa mbak…” sapaku terhadap ibu tua yang mengantarkan minuman dingin tersebut.

Hingga pada akhirnya, kita malam itu terus bercerita, banyak hal. Kadang tertawa bersamaan, kadang terdiam bersamaan. Ah, malam itu kita seperti keasyikan dibuai indahnya sebuah pertemuan.

***

Oh iya, aku dengar kamu mau pulang besok ya? Begitu singkatnya yaa pertemuan ini, tapi thanks yaa untuk semuanya

***

Semenjak saat itu, kita sudah berulang kali bertemu, menikmati indahnya senja, menikmati indahnya pesta kembang api, menikmati indahnya terjebak kemacetan, menikmati indahnya menunggu, dan semua yang kita nikmati secara bersamaan, semua itu adalah sebuah anugerah yang bukan kita rencanakan sebelumnya, tapi sebuah kebetulan saja terciptanya perjalanan rasa dari apa yang kita rasakan.

Kita rasakan???

Mungkin bukan kita rasakan, tapi aku saja yang merasakan.

Kamu? kalo soal itu aku nggak tahu. Isi hati orang, siapa yang tahu?

“Aku mencintaimu. Kamu mau nggak jadi pacarku?” ujarku suatu hari

Tapi kamu hanya terdiam, aku pun terdiam menunggu jawaban. Tapi aku perhatikan dari sudut matamu yang selalu kukagumi tersebut, tersirat tanda tidak setuju, bahkan menolak ungkapan tulus dariku.

Hingga akhirnya aku mendapatkan sebuah jawaban tegas darimu, sayangnya tidak kamu sampaikan secara langsung sehingga aku tidak bisa mengetahui dan melihat secara langsung bagaimana wajahmu, matamu, hidungmu saat kamu melontarkan jawaban yang aku tunggu itu.

“Maaf” ujarmu….

“Aku sudah punya pacar, dan kami akan segera menikah. Kita jadi teman biasa saja, tidak lebih dari itu” mungkin seperti itu maksud yang hendak kamu sampaikan.

Aku terdiam, kamu juga terdiam. yang ada hanya bunyi yang disekitar kita yang semakin jelas.

***

Malam itu, aku kembali menatapmu, kamu sempat menatapku juga kan? Saat itu, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Penjelasan yang kamu lontarkan kemarin sudah mewakili semuanya, tentang apa yang harus aku, kamu dan kita lakukan.

Malam sudah menghadirkan cerita, begitu juga dengan siang.

***

Jika suatu ketika kita tak lagi bersama, sudah berpisah jauh, dan tak akan pernah bertemu lagi, maka kamu harus tahu bahwa aku akan terus menjadi seperti malam, seperti siang, seperti matahari, seperti bulan, seperti bunga, seperti kumbang, seperti karang, seperti ombak. Intinya, aku tidak akan berubah, apalagi berubah menjadi orang lain. Aku adalah aku.

Aku akan terus berjalan, terus mencari cinta yang lain, dan melanjutkan hidup seperti biasa. Mungkin juga, disetiap perjalananku, kemanapun aku melangkah, maka disitu aku hempaskan semua kenangan dan ingatan tentang dirimu, meskipun gak semuanya aku buang. Aku coba perlahan-lahan saja.

Dari sekian banyaknya manusia di dunia ini, semuanya pasti merasakan rasa sakit hati, aku dan kamu pun begitu. Tapi aku ataupun toh kamu harus menjalani hidup dengan terus bersedih? Tidak kan? Lagian juga, intinya kita hidup ini mencari dan menciptakan kebahagiaan berdasarkan versi kita masing-masing.

Hari ini, mungkin aku gagal menjadi kekasihmu, gagal menjadi pendamping hidupmu, gagal menjadi calon orang yang akan menemanimu hingga ujung waktu. Tapi seharusnya kamu tahu, cinta itu tetap ada kok. Nah, untuk apa dan untuk siapa cinta itu, kita serahkan saja kepada semesta untuk menentukan nasibnya sendiri.

AKU dan KAMU, bukan lagi KITA

***

PERPISAHAN TERMANIS

Bila nanti kita berpisah
Jangan kau lupakan
Kengan yang indah
Kisah kita

Jika memang kau tak tercipta
Untuk ku miliki
Cobalah mengerti
Yang terjadi

Bila mungkin memang tak bisa
Jangan pernah coba memaksa
Tuk tetap bertahan
Di tengah kepedihan

Jadikan ini
Perpisahan yang termanis
Yang indah dalam hidupmu
Sepanjang Waktu

Semua berakhir
Tanpa dendam dalam hati
Maafkan semua salahku
Yang mungkin menyakitimu

Semoga kelakkan kau temukan
Kekasih sejati
Yang kan menyayangi
Lebih dariku

Bila mungkin memang tak bisa
Menyatukan perbedaan kita
Dan tetap bertahan
Ditengah kepedihan

Jadikan ini
Perpisahan yang termanis
Yang indah dalam hidupmu
Sepanjang Waktu

Semua berakhir
Tanpa dendam dalam hati
Maafkan semua salahku
Yang mungkin menyakitimu

2 thoughts on “ketika AKU dan KAMU bukan lagi KITA !!!

  1. perkenalan semalam, langsung jatuh cinta? dan berakhir dgn begitu, ibarat sampah plastik yg mengambang terbawa arus sungai, kyknya bgtu isi hati itu cewe. sementara even sdh menyiapkan jaring utk menangkapnya. tetap semngat akan masih ada sampah2 plastik lainnya yg akan terbawa arus sungai menuju pondok milik om. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s