Ketika Keharmonisan Keluarga Luntur


Keluarga merupakan tujuan akhir ketika kamu pulang, dan rumah adalah tempat yang selalu menyediakan kenyamanan tersendiri disaat kita pulang, setelah melakukan ‘perjalanan’ yang belum berakhir. Namun, hal ini tidak berlaku bagi semua orang. Disaat kita mencaci maki kehidupan kita yang serba berkecukupan, diluar sana ada yang mensyukuri kehidupannya meskipun terjepit dari berbagai ‘jepitan’

Saya ingin ‘pulang sejenak’ ke rumah, setelah sekian lama gak pernah pulang lagi meskipun hanya sekedar menengok sebentar saja. Terakhir kalinya sih saat lebaran Idul Adha, itupun gak lama.

Keinginan untuk pulang sejenak tersebut karena saya memang merasakan kerinduan, seperti apa nantinya keadaan yang saya temui nanti, apa masih senyaman dan seindah seperti saat masa kecil dulu. Keadaan dirumah saya memang tidak harmonis, tidak seperti keluarga lain, dimana selalu terlihat kebahagiaan dimata mereka karena kemesraan dalam lingkup keluarga. Kita selalu berantem, apalagi saya dengan papa saya.

Oke, cukup sampe disitu, saya gak mau menceritakan secara jelas dan mendetail masalah keluarga yang saya alami. Cukup itu saja, sebagai gambaran untuk kita pecahkan teka-teki dan mencarikan solusinya.

Semenjak saya sering berantem sama papa saya, semenjak itu pula saya memilih untuk tidak tinggal dirumah, kemudian saya memilih hidup secara nomaden (kayak manusia purba yaa…), mulai dari ngekost sampai ngontrak rumah, pernah saya lakukan. Selain punya kerjaan tetap, saya juga mencari pekerjaan tambahan untuk menunjang hidup sehari-hari, dan juga untuk melunasi tagihan-tagihan kreditan yang pernah ada.

Syukurlah, setiap apa yang saya alami, masalah ini, masalah itu dan beragam pelajaran yang saya dapatkan dijalanan, saya ambil hikmahnya. Saya cari solusinya, saya pecahkan sendiri. Dan saya memilih menjadi petualang saja, mempelajari dan mencari jati diri hidup ini sebenarnya apa dan untuk apa. Saya mencari apa yang saya tidak temukan dirumah, yang kemudian saya menyandarkan cita-cita dan harapan ini di jalananan. Saya hanya berharap bahwa orang tua, utamanya papa saya bisa memandang dan memperlakukan saya dengan cinta, bukan dengan kekerasan maupun penindasan.

Meskipun begitu, saya tidak pernah menganggap rumah adalah neraka, akan tetapi saya hanya merasakan kecemburuan ketika melihat teman-teman lain yang harmonis bersama keluarganya, bisa ngumpul bersama, makan malam bersama, berbagi cerita setelah seharian beraktivitas, tertawa bersama… dan itu yang tidak pernah saya alami semenjak dulu hingga sekarang… Bahkan, saya pun jadi orang yang tertutup terhadap orang tua, gak pernah curhat masalah pribadi kepada mereka, karena saya tidak terbiasa. Foto bersama keluarga? Ada, itupun hanya sewaktu saya diwisuda tahun 2007 silam. Setelah itu? Gak ada, gak ada berbagi cerita indah, kita gak saling tertawa, semua hilang… yang dirasakan pun hanyalah sebuah rasa hambar.

Niat saya, mungkin setelah saya menikah nanti, saya ingin keluarga ini kembali seperti saya kecil dulu, tertawa bersama ada, ngumpul dan berbagi cerita ada, dan semuanya ada… Insya Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s