Ternyata, Niat Baik Saja Gak Cukup


Suatu ketika, saya memperhatikan dua ekor ayam yang sedang mengais sisa-sisa makanan di halaman rumah. Mereka nampak asyik bahkan tidak menyadari kalo saya sedang memperhatikan mereka sambil megang-megang HP. Ah, mungkin mereka sok cuek karena tahu kalo memang saya gak terlalu memperdulikan mereka.

Tapi tiba-tiba, dua ekor ayam tersebut lari, menjauh dari halaman rumah. Ternyata, mereka kaget ketika saya berdiri, beranjak masuk ke dalam rumah. Wajar memang sih, mungkin ayamnya takut jika sewaktu-waktu saya menangkapnya. Padahal, niat saya saat beranjak masuk ke dalam rumah tersebut hendak mengambil sisa makanan, yang kemudian mau saya kasih makan buat ayam tersebut.

Lho, saya ini niatnya mau ngasih makanan, gak tega gitu deh liat mereka mengais sisa makanan di halaman rumah, yang memang saya gak mengerti apa yang mereka cari dibalik rerumputan tersebut. Mungkin cacing atau sejenis serangga ya, atau mungkin juga bangkai dari decepticon dan autobots yang gak pernah akur, berantem terus, atau mungkin apa ya? Entahlah…

Dulu, teman saya pernah ngomong begini, “terkadang bro, niat baik kita gak bakalan dianggap atau diterima orang lain, meskipun begitu gak usah berhenti bersikap baik. Apapun anggapannya, lha wong gak merugikan juga kan?” Sepenggal kalimat itu sering saya dengar, sering saya baca, tapi ketika saya mencoba mengingat-ingat kembali, ketika saya renungkan kembali, saya merasakan seperti ada kekuatan dahsyat yang entahlah gak tahu datangnya dari mana. Ngerti kan maksud saya? Kalo gak ngerti, wajarlah…

Berangkat dari latar belakang diatas (wuihhhh,,, bahasanya kayak pengantar tugas makalah dari dosen statistika yang rumit binti susah deh….), saya mau cerita sesuatu.

Ah, gak jadi. Ntar malah kesannya saya curhat, saya ngeles, saya apalah gitu, tapi sudahlah….

Intinya begini, ketika kita hendak berbuat baik terhadap orang lain, anggaplah itu hal biasa saja, gak usah diingat lagi. Meskipun orang lain tersebut menganggap niat baik kita, itikad baik kita adalah hal yang gak bisa diterimanya, gak sesuai dengan ekspetasinya (ekspetasi apaan sih? Sok ilmiah nih saya… hahaha), santai aja. Keep calm kalo kata orang-orang bule yang dari kecil udah jago ngomong bahasa Enggresssss, beda sama kita-kita di Indonesia yaa…

Toh kita juga gak dirugikan apapun kan ketika melakukan itikad baik terhadap orang lain, gak mempengaruhi nafsu makan juga, apalagi nafsu tidur (asal jangan tidur dengan istrinya tentara, cari mati itu namanya). So, keep calm dan tetaplah berada di jalan yang lurus, meskipun disepanjang perjalanan kita akan menemui perjalanan yang menantang, belok ke kiri, belok ke kanan, jalan lobang-lobang yang sampai saat ini di cuekin pemerintah, atau jalan yang sudah memenuhi standar prosedur untuk ditanami pohon pisang.

Nb: sebenarnya ini curhat sih, curhatnya saya yang dicuekin si bulan (cerita soal bulan ada di postingan“Kayak Ada yang Aneh Disini”) tapi sudahlah, itu masa yang gak mungkin terulang lagi, gak tahu masa apa, tapi anggaplah itu sebuah masa)

Eh, btw apa hubungannya yaa dengan cerita soal ayam di atas? ah, saya bingung… Tapi yang pasti, meskipun kamu mengecewakan saya, itikad baik tetap ada kok, sampai kapanpun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s