Sebuah Cerita Tentang Daun Yang Jatuh


Akhir pekan kemarin, saat kerjaan belum begitu menumpuk saya menyempatkan jalan-jalan ke Mall, sekalian mau ngecek novel terbaru lagi untuk saya konsumsi atau saya jadikan alas kepala saat tidur nanti, hehehe. Tiba di Gramedia, saya ketemu teman, namanya @shinTHApurple . Secara kebetulan dia juga mau beli novelnya Tere Liye yang judulnya Daun Yang Jatuh Tak Pernah Menyalahkan Angin.

Wah, kebetulan nih. Rencananya juga saya mau beli novel itu, tapi karena dia mau beli novel itu, saya urungkan saja niat awal mau beli novelnya Tere Liye. Saya sendiri sudah punya 2 koleksi novelnya Tere Liye, yakni Negeri Para Bedebah dan Ayahku (Bukan) Pembohong. Oke, gak jadi beli tapi rencana mau pinjam novel ke dia saja. hihihi….

Quotes dari judul buku itu sangat saya suka, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Menyalahkan Angin… filosofis…

*memperhatikan pohon depan rumah*

*camera zoom in menuju ke zoom out*

Tiba-tiba sehelai daun dari pohon mangga jatuh ke tanah….

Oke, kembali ke topik. Tulisan makin ngawur terbawa suasana siang yang makin lama makin panas. Lapisan langit makin lama makin menipis, yang menebal hanyalah rasa rindu. Berbanding terbalik dengan suasana alam yang makin ekstrim. Nah ini baru sebanding dengan rasa rindu, sama-sama ekstrim karena rindu sudah tidak punya pemiliknya lagi. Kemana lagi aku harus melampiaskan rindu ini?

Sementara menikmati suasana alam, saya sambil buka-buka twitter juga. Eh, ada quote menarik dari @LiantyKD “pengen seperti embun yang gak perlu warna buat daun jadi jatuh cinta”. Luar biasa dalamnya filosofis kata itu. Saya kadang berandai-andai, kita sebenarnya bisa seperti apa yang kita saksikan dari kehidupan sehari-hari. Hanya saja kita manusia yang terkadang sangat egois, sehingga melupakan hakikat alam yang bisa kita jadikan pelajaran sehari-hari.

Dari postingan ini, saya belum bisa menyimpulkan apa-apa, saya hanya sekedar mau sharing saja. Lagian hal ini saya jadikan sebagai introspeksi bagi diri saya sendiri. Oh iya, kemarin saya sempat pinjam bukunya Tere Liye – Daun Yang Jatuh Tak Pernah Menyalahkan Angin, berikut saya share beberapa quotesnya yang sempat saya catat.

  • “Kalau memang terlihat rumit lupakanlah. Itu jelas bukan cinta sejati kita. Cinta sejati selalu sederhana. Pengorbanan yang sederhana kesetiaan yang tak menuntut apapun dan keindahan yang apa adanya.”Tere Liye
  • “Hanya orang-orang dengan hati damailah yang boleh menerima kejadian buruk dengan lega.”Tere Liye
  • “Benarlah. Jika kalian sedang bersedih, jika kalian sedang terpagut masa lalu menyakitkan, penuh penyesalah seumur hidup, salah satu obatnya adalah dengan menyadari masih banyak orang lain yang lebih sedih dan mengalami kejadian lebih menyakitkan dibandingkan kalian. Masih banyak orang lain yang tidak lebih beruntung dibandingkan kita. Itu akan memberikan pengertian bahwa hidup ini belum berakhir. Itu akan membuat kita selalu meyakini : setiap makhluk berhak atas satu harapan.”Tere Liya
  • “Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus dimengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.”Tere Liye
  • “Hidup harus terus berlanjut,tidak peduli seberapa menyakitkan atau membahagiakan, biar waktu yg menjadi obat”  –Tere Liye
  • “Orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.” –Tere Liye
  • Kebahagiaan adalah kesetiaan, setia atas indahnya merasa cukup, setia atas indahnya berbagi, setia atas indahnya ketulusan berbuat baik” -Tere Liye
  • “Sepanjang kita yakin telah melakukan sesuatu dengan baik, selalu belajar untuk lebih baik, terbuka dengan masukan, rasa nyaman dan tenteram itu akan datang. Kemuliaan hidup tidak pernah tertukar.”Tere Liye
  • “Berasumsi dengan perasaan, sama saja dengan membiarkan hati kau diracuni harapan baik, padahal boleh jadi kenyataannya tidak seperti itu, menyakitkan.”Tere Liye
  • “Tidak ada yang pergi daripada hati. Tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan” -Tere Liye
  • Terkadang kesedihan memerlukan kesendirian, meskipun seringkali kesendirian mengundang kesedihan tak tertahankan.”Tere Liye
  • “Cinta itu jangan dipaksakan, jangan diburu-buru karena nanti kita yang akan merusak jalan ceritanya sendiri.”Tere Liye
  • “Mengerti bahwa memaafkan itu proses yang menyakitkan. Mengerti, walau menyakitkan itu harus dilalui agar langkah kita menjadi jauh lebih ringan. Ketahuilah, memaafkan orang lain sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan memaafkan diri sendiri.”Tere Liye

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s