Buku “5cm” Itu Untuk Kamu (1)


Kalo namanya jatuh cinta, pasti rasanya menyenangkan dan mengasyikan. Dan untuk hal-hal yang dicintai pun, kadang ada beragam hal yang kita lakukan. Terserah, selama itu masih dalam jalur positif, it’s no problem. Dan cerita saya kali ini adalah mengenai bagaimana perasaan saya ketika jatuh cinta lagi. Jatuh cinta yang berulang kali dan dengan rasa yang kadarnya tetap sama dan belum berkurang sedikit pun. Tapi, cinta kali ini jatuh pada sebuah buku…

Ya, saya harus akui bahwa saya jatuh cinta terhadap bukunya Donny Dirgantoro yang judulnya “5cm”. Ulasan saya kali ini bukan mengenai review dari isi buku tersebut, akan tetapi sebuah cerita yang saya dapatkan yang ada kaitannya dengan buku tersebut.

Kalo isi buku itu sendiri, saya acungi jempol sangat menarik, baik dari alur ceritanya, karakter para tokoh yang diperankan dalam buku tersebut, kemudian tema yang diangkat serta latar belakang dari cerita di buku itu. Latar cerita yang sangat saya sukai karena dalam keseharian, saya juga berkecimpung dalam dunia tersebut. Gunung. Selain itu juga, pesan yang disampaikan dalam buku itu juga sangat sangat menarik, terutama mengenai pesan cinta, persahabatan, kebersamaan, cinta tanah air, mimpi yang harus dicapai, harapan yang harus dikejar dan masa depan….

Oke, lanjut cerita…

Pertama kali saya membeli buku “5cm” saat saya ke Makassar tahun 2008 silam. Namun, buku itu hilang ketika dipinjam sama teman, padahal saya belum sempat membaca secara keseluruhan buku itu. Saya lupakan, karena saya belum baca juga semuanya, baru setengah itupun belum sampai setengah halaman. Jadi kesannya biasa saja pada saat itu. Namun, ketika saya ke Jakarta tahun 2010 saya menyempatkan mampir ke Gramedia dan kembali melihat ada buku “5cm”, tanpa pikir panjang saya langsung pungut, menuju ke kasir, bayar, persoalan selesai.

Menarik, tapi saat itu saya belum ketemu dengan teman atau orang yang bisa saya ajak share tentang cerita seputar misi pendakian ke tanah tertinggi di Pulau Jawa tersebut. Setelah sekian lama, akhirnya saya terpilih jadi salah satu Petualang Indonesia, sebuah program yang diselenggarakan oleh @detikcom. Pengalaman dan cerita serta pesan moral yang saya dapatkan dalam buku itupun saya coba untuk jalankan saat saya tracking ke Gunung Gede Pangrango, Gunung Halimun dan Gunung Salak saat saya berkesempatan menjelajahi 3 gunung yang fenomenal di Jawa Barat tersebut.

Hingga pada akhirnya, di Gorontalo dibuka toko buku Gramedia. Dan sekitar bulan September kemarin, untuk ketiga kalinya saya membeli buku “5cm”, meskipun pada saat itu saya masih memiliki koleksi bukunya. Maksud dan tujuan saya membeli buku itu sendiri saya hadiahkan ke seorang teman, yang baru 4 kali ketemu dengan saya meskipun saya dan dia satu kota dan sudah berkawan lama di jejaring sosial. Hingga saat ini pula, tak ada yang mengetahui siapa orang yang saya kasih buku itu, hanya saya, dia dan Tuhan saja yang tahu. Kita sudah komitmen soal itu. emang apaan sih pake rahasia-rahasia segala…. hahahaha.

3 bulan berselang, ada teman yang pinjam buku ke saya. Teman cewek yang masih juga jadi teman baik saya. Okelah, saya pinjamkan buku ke dia. Tapi karena mengingat buku “5cm” yang kedua yang saya beli di Jakarta sudah kusut, hancur-hancuran, dan lusuh, saya membeli buku “5cm” itu lagi dan kemudian saya pinjamkan ke teman. Perhitungan saya, pasti buku itu akan dipinjam orang lain lagi, pokoknya sampai berpindah-pindah tangan terus. Sampai akhirnya ke tangan salah seorang teman lainnya, yang juga teman baik saya. Agak lama buku ditangannya, yang kemudian saya bilang ke dia bahwa buku itu saya kasih buat dia saja, hitung-hitung sebagai hadiah saja. Siapa orang itu? Lagi-lagi tidak ada yang tahu, cukup saja saya, dia dan Tuhan yang tahu.

Akhir kata… Dua orang yang saya kasih buku itu adalah cewek, single, dan uniknya, kedua-duanya tidak mengerti dan mungkin tidak akan tertarik untuk mencoba tantangan naik gunung seperti yang diceritakan di buku itu. Dan saya juga tidak menghendaki agar mereka segera naik gunung setelah baca buku itu, tidak sama sekali. hahaha.. Tapi, pesan moral tentang persahabatan, cinta, mimpi, harapan, nasionalisme yang terkandung dalam buku itu bisa dipahami, diterapkan dan jadi acuan bagi mereka, setidaknya untuk menciptakan sebuah rasa bahwa beginilah rasanya kalo lagi jatuh cinta. sekian blaaa…blaaa…blaaa…. hahahhaa.

****bersambung****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s