Siap Ditempatkan Dimana Saja…


Siap ditempatkan dimana saja, selama 10 tahun !!! Setelah membaca kalimat yang tertera di surat pernyataan tersebut, saya terdiam. Kamu yang sempat membaca apa yang saya maksudkan disini pasti tahu, kenapa dan apa yang saya maksudkan disini sebenarnya. Sebuah konsekuensi yang mau tidak mau harus diterima, dijalani demi sebuah tugas dan pengabdian terhadap negara. Komplit!!!

Sebulan, Setahun, hingga 3 tahun, waktu terus berjalan, beragam hal yang dialami, suka dan duka entah kenapa semua menjadi satu, rasanya beragam. Macam-macam. Kalo ngomongin itu, saya mengakui kalo saya lebih banyak mengalami dukanya dibanding suka. Karena sejujurnya saya tidak bisa mencintai tempat itu, saya tidak tertarik dengan posisi itu, passionnya sulit saya dapatkan disitu.

Menolak, beragam resiko yang harus dihadapi, termasuk dari orang terdekat seperti orang tua. Dan ketika menerima, batin yang malah tersiksa. Setiap saat saya selalu bertanya, pada hal-hal yang tak bisa saya deskripsikan seperti apa. Tidak ada yang tahu, bahkan saya sendiri kadang merasa bingung. Disaat seperti itu, timbul pertanyaan “kenapa saya disini???”

Kalo mau jujur, saya lebih menguasai apa yang saya dapatkan yang saya pelajari dilapangan, apa yang saya pelajari di jalanan, apa yang saya pelajari dari kehidupan sehari-hari, bahkan dari sebotol minuman keras sekalipun saya pelajari hal tersebut. Pendidikan formal yang substansinya hanya menghasilkan ijazah yang pada akhirnya tidak seperti yang kita kuasai. Passion kita tidak ada disitu. Berbanding terbalik dengan apa yang kita pelajari di jalanan.

Bingung, saya tidak bisa melanjutkan lagi isi cerita disini. Jika kamu merasa bingung dengan apa yang saya maksudkan disini apa, jangan protes. Saya sendiri malah gak tahu juga, sebenarnya apa maksud yang hendak saya sampaikan disini. Tidak berbekas, tidak berisi, tidak berbobot. Selamat menikmati kegalauan.

****

Segelas kopi panas habis….

Sebungkus rokok pun begitu, masih tersisa beberapa batang…

Lantunan lagu Iwan Fals masih terus berdendang mewarnai malam yang makin larut makin dingin, makin sepi….

Sebenarnya begini…..

Akhir tahun 2009, saat itu saya masih berprofesi sebagai jurnalis pada sebuah media nasional (Indosiar) dengan posisi sebagai kontributor daerah, meskipun dengan pendapatan yang lumayan bisa beli beer tiap minggu, tapi tetap mengasyikan. Banyak hal yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata bagaimana asyiknya itu.

Hingga pada suatu ketika, kedua orang tua menuntutku untuk ikut penerimaan PNS. 100 persen saya tidak suka dan sangatlah tidak tertarik. Ingin hati menolak keinginan orang tua, tapi ada rasa gak enak gitu ketika menolak keinginan mereka. Awal tahun 2010, masa itu datang juga. Saya resmi terangkat sebagai CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil), setahun berikutnya jadi PNS dengan profesi sebagai tenaga pengajar pada salah satu sekolah yang berada di kawasan terpencil Kecamatan Bongomeme, setahun kemudian dipindahkan ke Kecamatan Pulubala. Sama saja, tetap berada dikawasan yang terpencil.

Jika mau jujur, bukan soal terpencilnya itu yang saya tidak senangi, akan tetapi profesi sebagai tenaga pengajar saya rasakan tidak pas dengan kata hati dan jiwa saya. Meskipun begitu, saya terus mencoba untuk mencintai profesi ini, mencintai lingkungan sekitar tempat saya bertugas setiap hari, mencintai orang-orang yang ada disitu, mulai dari atasan, rekan kerja, para siswa, dan masyarakat sekitar. Hasilnya??? Sulit, sangat sulit saya untuk melakukan hal tersebut. Saya mencoba menerapkan cinta, agar saya merasa betah, tapi kenyataannya tidak bisa sama sekali. Saya malah semakin tersiksa.

Memang, jalur pendidikan formal saya harus menjadi profesi itu ketika suatu kelak saya jadi abdi negara, akan tetapi pendidikan formal yang saya tempuh selama 2 tahun itu sulit membentuk jati diri saya sebagai abdi negara pad profesi itu. Saya malah mencintai profesi lain, profesi yang sebelumnya saya jalani dengan penuh cinta, kesabaran, kerja keras dan istiqomah yang taat.

Sebagai jurnalis, saya sudah jalani semenjak saya duduk di bangku kuliah tahun 2005. Saya menyukai tantangan sebagai jurnalis bukan karena pendapatannya. Pendapatannya memang tidak seberapa dengan pendapatan seorang PNS, memang tidak menjamin masa depan seperti kata orang-orang tolol yang hanya diperbudakan pemikiran kolonial belanda itu. Tidak seperti anggapan mereka. Buktinya, saya merasa bahagia ketika menjalani semua itu. Kebahagiaan yang takkan saya lupakan seumur hidup. Selama itu, saya terus belajar untuk mencari jati diri dan mempelajarinya lewat alam suka dan duka.

Kini, saya harus menjalani profesi yang sama sekali sulit untuk saya jalani, sulit saya cintai, sulit saya terapkan dengan visi misi hidup saya sewaktu masih menjalani profesi sebagai jurnalis selama kurang lebih 5 tahun. Nah, dalam pendidikan formal saya hanya 2 tahun dengan segala tetek bengeknya, berbanding terbalik dengan pola pembelajaran yang saya dapatkan selama hidup di jalanan.

Jikalau pun saya tetap bertahan sebagai abdi negara, saya sangat berharap untuk dipindahkan ke profesi lain selain profesi yang sementara saya geluti saat ini. Soal kualitas, saya menguasai banyak hal yang bisa saya andalkan yang saya dapatkan melalui pembelajaran otodidak, terutama yang berhubungan dengan Sistem Informasi dalam hal ini Teknologi Informatika maupun yang sejenisnya. Saya menguasai beragam hal, baik yang berhubungan dengan hardware maupun software, saya menguasai bidang sistem informasi, internet, bahasa pemograman.

Bukan hanya itu, karena pada awalnya saya sebagai jurnalis, yang selalu berkecimpung dengan dunia tulis menulis, dunia fotografi, maupun yang berhubungan dengan video, saya bisa menerapkan hal tersebut jika saya tidak berada pada posisi yang saat ini. Saya menyukai traveling, saya menguasai kondisi kepariwisataan Gorontalo, saya punya konsep gagasan untuk menjalankan semua, saya punya kemauan untuk menerapkan semua itu.

Tapi sayangnya, aturan birokrasi sulit untuk dilangkahi, sulit untuk dimengerti. Mau tidak mau, harus menerima dan menjalaninya saja meskipun batin tersiksa, meskipun harus menangis, meskipun harus mati sekalipun. Entahlah…

Suatu ketika, saya harus meninggalkan tempat ini… Aku berhak bahagia, aku berhak menikmati hidup dengan senang, bukan atas landasan jaminan kehidupan masa depan, bukan atas landasan berapa pendapatan yang kita terima setiap bulan, bukan atas landasan fasilitas yang kita dapatkan. Untuk apa semua itu jika toh pada kenyataannya kita tidak menikmatinya lewat kebahagiaan???? untuk apa banyak uang tapi kita tidak bahagia???

Semoga pihak yang berkompoten sempat membaca isi blog ini, dan saya siap menerima resiko apa yang akan diberikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s