Jadi Suporter, Dewasa Dikit yaa….


Sebagai suporter atau fansclub, seharusnya mengedepankan kedewasaan, jangan hanya sekedar fanatisme belaka yang diagung-agungkan yang kemudian malah hanya akan melahirkan kebencian dan permusuhan yang bisa saja makin lama makin beresiko. Melalui postingan ini, saya secara pribadi dan juga sebagai Interisti menyesalkan atas tindakan Milanisti yang menghadang Interisti saat menuju lokasi nonton bareng, pada Minggu dini hari, 4 November 2011

Begini ceritanya…

Malam itu, akan ada bigmatch antara Juventus yang akan menghadapi Inter Milan pada lanjutan laga Serie-A. Sebagai Interisti, pertandingan ini tentunya sangat bergengsi, melihat sejarah kebelakang antara dua tim tersebut yang selalu menghadirkan beragam moment dan cerita tersendiri. Intinya saja, saya hanya ingin menikmati laga tersebut. Sekitar pukul 10 malam saya menuju ke rumah teman, namanya Wawan Nurmawan untuk sekedar ngumpul-ngumpul bersama teman-teman Interisti lainnya, sebelum menuju ke lokasi nonton bareng.

Sekitar pukul 3 dini hari, kami menuju ke lokasi nonton bareng yang rencananya akan di gelar di halaman TVRI. Secara tertib, kami melakukan konvoi malam itu, melewati Jl. Arif Rahman Hakim, kemudian Jl. Jenderal Soedirman hingga ke arah Jl. Panjaitan. Sengaja kami memilih rute tersebut karena hendak mampir di salah satu lokasi alternatif yang akan dijadikan sebagai tempat nonton bareng bersama fans Juventini.

Dalam perjalanan, tepatnya di lokasi Labamba, kami bertemu dengan sekelompok Milanisti yang malam itu baru saja selesai menggelar nonton bareng di sebuah cafe dekat Labamba. Melihat kami konvoi pelan secara beriringan, sekelompok Milanisti tersebut langsung ribut dengan yel-yel mereka dan menyanyi sekeras-kerasnya dipersimpangan jalan. Melihat kondisi tersebut, kami yang sedang melakukan konvoi berhenti. Awalnya hanya sekedar salaman, saling sapa, hingga pada akhirnya antara Milanisti dan Interisti saling menyerang dengan cori-cori. Pokoknya malam itu area Labamba yang pada awalnya sepi, berubah menjadi ribut dengan nyanyian dari dua kubu fansclub tersebut.

Saya yang saat itu hanya duduk diatas motor sambil menyimak dari jauh mulai mencium ada yang akan terjadi. Tak lama berselang, kericuhan pun terjadi. Entah saling pukul atau apa, saya melihat kedua kubu tersebut sudah saling memanas. Saya menuju ke arah kerumuman tersebut dan menarik beberapa rekan-rekan saya Interisti, sambil menenangkan kelompok Milanisti. Karena pada saat itu, saya hampir mengenal mereka semua yang dari kelompok Milanisti. Pokoknya semampu saya untuk melerai.

Disini juga saya tekankan, bawha saya tidak melakukan pemukulan terhadap Milanisti. Saya hanya sempat melihat beberapa Interisti memukuli sekitar 2-3 orang Milanisti. Hanya saja, saat saya melerai dan menarik rekan saya untuk segera menjauh dari situ, siku tangan saya mengenai wajah salah seorang. Agak keras saya rasakan siku itu mendarat diwajahnya tapi bukan bermaksud menyakiti atau memukuli, hanya saja tangan saya pada saat itu terlalu keras menarik rekan tersebut yang kemudian secara refleks pun terkena wajahnya karena sudah saling tarik menarik.

Bisa dimaklumi, bagaimana perseteruan kami Interisti dengan Milanisti. Mungkin malam itu adalah malam berakhirnya kesabaran teman-teman Interisti yang selalu diperlakukan semena-mena oleh Milanisti yang selalu mengejek, mencaci maki dan menghina Interisti. Ketika kami mencoba menantang secara sportif, mereka tidak pernah mau menerima. Bahkan tantangan untuk bermain Futsal maupun Fun Football pun tidak pernah ada respon.

Malam itu, jumlah Interisti yang sementara konvoi menuju ke lokasi nobar sekiatar 50-an orang, yang kemudian hanya dihadang oleh belasan Milanisti, tentunya bukanlah hal yang diinginkan. Interisti gak mau mencari ribut dengan Milanisti, hanya saja menyesalkan dengan tindakan kekanak-kanakan Milanisti yang sudah terlalu kasar. Karenanya, jangan salahkan Interisti malam itu karena masalah berawal dari Milanisti.

Akhir kata, dewasalah jadi suporter atau fansclub, jangan hanya mengandalkan kekerasan maupun saling menghina. Wajar sih, tapi kalau sudah lewat batas juga sudah bukan lagi hal yang mengenakan. Kita sama-sama satu kota, satu daerah, setiap hari saling ketemu. Jika hanya faktor iri hati sama Interisti, bukan begitu caranya. Banyak cara-cara jantan yang harus dilakukan. Cara jantan saja bukan hanya lewat kekerasan, saling adu kreatifitas bisa jadi alternatif, atau sparing futsal dan football juga.

Sekian dari saya… Oh iya, thanks juga atas penghadangannya malam itu, kami juga untuk pertama kalinya menggelar nobar bersama Juventini, yang kemudian pertandingan dimenangkan oleh Inter dengan skor 3-1 meskipun saat itu Inter bermain dikandang Juventus.

Inter Teritory Gorontalo Siamo Noi and FORZA INTER !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s