Hujan Diawal Bulan November…


06.00 WITA.

Siap-siap berangkat kerja, meskipun masih begitu pagi dan matahari belum muncul dari peraduannya, aku segera berkemas menuju tempat kerja. Semalam gak tidur, masih sempat ikut nonton bareng Serie-A: Inter Milan vs Sampdoria yang akhirnya dimenangkan oleh Inter yang juga tim favoritku dengan skor 3-2.

Sebenarnya, ada rasa enggan dan malas juga, mengingat saat itu saya belum tidur semalaman tapi udah siap-siap berangkat kerja. Namun ternyata, matahari yang sedari tadi saya tunggu belum juga nongol, ternyata memang lagi mendung. Tak berapa lama, hujan pun turun, membasahi bumi dipagi hari, menemui rindunya terhadap kegersangan tanah. Ah, begitulah filsofi terhadap hujan, Saya pun sangat mencintai hujan.

Sambil menunggu hujan yang kayaknya gak bakalan reda, saya mencoba menikmatinya saja. Segelas kopi, sebungkus marlboro merah jadi teman setia pagi itu. Banyak hal yang bisa kita lakukan ketika sedang menunggu, dan menunggu hujan reda bagi saya bukanlah pekerjaan yang membosankan, karena saya menyukai hujan.

PING !!!

“hai, apa kabar?” saya mencoba menyapa seseorang lewat BBM.

Dan semenjak teknologi makin canggih, menunggu bukanlah hal yang membosankan. Yang penting saat itu kita terkoneksikan dengan sinyal bagus, dan bahkan colokan buat ngecharger gadget, semua akan terasa indah. Ooohhh, begitu indah….

“Baik kak. Kak gimana?” balas seseorang via BBM setelah saya mencoba basa-basi ngajakin dia memulai obrolan di BBM.

****

Ah, andai saja kita saling memahami apa yang jadi isi hati kita, saling mengerti apa kemauan kita, apa yang sebenarnya kita inginkan, tentunya tak akan jadi seperti ini. Kita sama-sama egois juga ya, dan sayangnya hal itu kita sadari setelah kita tak bersama lagi. Memang sudah jadi kodratnya mungkin, jikalau memang sesuatu hal itu akan kita ketahui setelah kita tak lagi berada disitu, setelah kita tak menikmatinya lagi, setelah semua itu berakhir…

Sayup-sayup terdengar lagu November Rain yang memang sengaja saya putar untuk menikmati hujan di pagi itu. Benak saya langsung terbang melayang, melayang kepada orang yang saya BBM tadi, seorang mantan pacar, yang hingga kini masih sering komunikasi, masih menjalin hubungan dengan saya meskipun hanya sebatas teman biasa. Tidak seperti dulu. Ada rasa sakit, jika mengingat kembali masa-masa saat bersamanya, hingga pada masa suatu ketika yang mengharuskan saya dan dia harus mengakhiri hubungan, dengan setumpuk masalah yang harus saya hadapi sendiri.

Dari lagu November Rain yang sementara saya dengarkan, saya mencoba menelaah apa yang sebenarnya jadi makna dari lagu itu… Hhhmm, Nothing lasts forever,  Sebenarnya, lagu ini memang pas dengan keadaan saat itu. Sebuah lagu yang menceritakan tentang cinta, kebahagiaan, luka dan bencana. Toh kita manusia hanya bisa terima saja, bahwa semua ini adalah kodratNya. Kita memang gak akan pernah tahu pasti apa yang akan terjadi pada saat itu.

Semenjak aku dikhianati olehnya, aku merasakan bagaimana sakitnya terpuruk. Bagaimana nikmatnya menghadapi sebuah masalah yang sempat membuatku down pada saat itu. Kita semua, bukan hanya saya saja pasti pernah mengalami masalah, dan kemudian jatuh terpuruk. Kita harus yakin, memang keterpurukan bukanlah sebuah akhir. Toh pasti akan berakhir juga. Memang benar, sakit memang dan mungkin saja kita nggak sanggup. Tapi kalo diri kita sendiri yakin, why not? Saya percaya, semua akan berakhir dan akhirannya inilah yang menguatkan kita.

Ada lirik di lagu November Rain yang coba saya jabarkan. When I look into your eyes, I can see a love restrained, but darling when I hold you, don’t you know I feel the same? Nothing lasts forever, and we both know heart can change.”  Tahu nggak, kalo ternyata lagu ini menyadarkan kita bahwa kebahagiaan itu gak ada yang abadi, begitu pula halnya dengan kesedihan. So, kenapa kita harus berlama-lama menikmati keterpurukan kalo kita bisa bahagia dengan cara kita sendiri? Kita gak akan tahu apa yang terjadi dimasa mendatang. Tidak.
Saya dan dia memang pernah punya rencana, rencana untuk mengakhiri hubungan yang kemudian melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Ya, married. Namun toh pada akhirnya kandas, tak berujung dan tak berkesimpulan. Saat itu saya percaya, banyak hal yang dapat memisahkan kita. Waktu bisa merubah segalanya. Hati manusia juga bisa berubah.
So never mind the darkness, we still can find a way. Nothing lasts forever, even cold November rain.” Walaupun kebahagiaan bisa pergi begitu saja dalam sekejap mata, begitu pula dengan kesedihan. Waktu memang tidak menyembuhkan luka dan sakit, tetapi membuat kita untuk terbiasa hidup dengan luka dan sakit itu. Lagu November Rain  bagi saya bagaikan sebuah pesan dari teman yang terus memotivasi untuk tetap bertahan walau badai menghadang.
Terakhir. Memang terasa sulit sih ketika kita harus membuka hati lagi, namun kita masih dalam keadaan terluka. Ah, kenapa juga kita harus berlama-lama menikmati kesedihan, kalo kita percaya bahwa waktu yang akan menghapus semuanya? Tergantung kita sendiri juga sih.  So, sebenarnya masalah cinta, rasa bahagia, senang, luka, sedih, air mata dan entahlah apa lagi, adalah sebuah misteri yang akan terus kita alami, kita nikmati. Dan satu-satunya jalan yang harus kita terapkan sekarang, yaa tuh dia, kita syukuri saja. Percaya saja, semua akan indah pada waktunya. Oke guys???

One thought on “Hujan Diawal Bulan November…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s