Sekolah Terpencil, Tidak Selamanya Terbelakang


Pagi itu, sinar mentari sudah mulai meninggi tapi suasana diperkampungan sudah terlihat sepi. Tidak satupun orang yang berkeliaran. Hanya terlihat beberapa ekor ayam dan anjing yang berkeliaran di halaman rumah penduduk. Burung-burung yang bernyanyi terdengar begitu merdu, seakan menandakan bahwa pagi itu begitu berwarna.

Saya mencoba untuk mempelajari lebih mendalam lagi tentang kebudayaan di kampung Adat Ciptagelar. Setelah bertanya-tanya pada beberapa kaum ibu tentang letak sekolah, saya menuju ke sebuah sekolah dasar (SD) yang masih masuk kategori sekolah terpencil pada wilayah administratif Kecamatan Cisolok tersebut.

sekolah terpencil di Ciptagelar, Jawa Barat
sekolah terpencil di Ciptagelar, Jawa Barat

Nampak, dari jauh terlihat sekolah tersebut terlihat menawan. Halamannya bersih, gedungnya pun sudah terbuat dari batu bata, tidak seperti sekolah terpencil lainnya yang dalam anggapan orang berupa begitu kumuh dan tidak tertata rapi. Sekilas juga saya perhatikan, sekolah tersebut hanya memiliki enam ruangan saja. Berarti, ada satu ruangan yang dipakai oleh 2 kelas sekaligus.

Saat saya tiba di sekolah, para siswanya sedang asyik bermain karena saat itu masih jam istrahat. Saya mencoba menyusuri kelas demi kelas dan memperhatikan proses Kegiatan Belajar Mengajar yang sementara berlangsung. Para siswa terlihat antusias mengikuti proses pembelajaran tersebut.

“Siswa di sini jumlahnya 100 lebih, dan sebagian besarnya adalah warga di Ciptagelar,” kata Suharwan, salah satu guru di SDN Ciptagelar sambil menawarkan saya untuk ngobrol di dalam kantor sekolah tersebut. Kami pun terlibat perbincangan, terutama mengenai suasana sekolah tersebut dan partisipasi masyarakat terhadap lembaga pendidikan.

Menurut Pak Suharwan, di Kampung Ciptagelar sudah banyak siswa yang putus sekolah karena mereka lebih memilih untuk membantu orang tuanya bekerja di sawah. Solusi pun sudah pernah dipikirkan pihak sekolah, bagaimana mereka untuk kembali lagi ke bangku sekolah, tetapi partisipasi dari wali murid masih kurang sehingga menyulitkan pihak sekolah sendiri.

Suasana Kegiatan Belajar Mengajar
Suasana Kegiatan Belajar Mengajar

Di SDN Ciptagelar sendiri hanya terdapat enam orang guru, di mana dari enam orang tersebut hanya dua orang saja yang sudah menyandang status Pegawai Negeri Sipil sedangkan yang lainnya hanya sebagai honorer saja yang mendapat SK Kepala Sekolah dengan pendapatan Rp400.000,00 per bulannya. Ironis memang, mengabdi di daerah terpencil dengan status sebagai honorer dan pendapatan seadanya saja. Meskipun begitu, semangat tetap nampak dari mereka untuk terus mencerdaskan generasi muda yang akan terus melanjutkan tongkat estafet bangsa dari masa ke masa.

Kegiatan Belajar Mengajar
Kegiatan Belajar Mengajar

Saat ditanyakan mengenai fasilitas sekolah, Suharwan mengungkapkan bahwa fasilitas disekolah yang berdiri semenjak tahun 2004 tersebut sudah mulai terpenuhi dengan adanya aliran dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), “Hanya saja, untuk gedung kita hanya memiliki enam ruangan saja. Satu ruangan kami jadikan sebagai kantor, sedangkan lokal I dipakai oleh kelas 1 dan kelas 2,” tambah Suharwan.

Setelah hampir selama 30 menit saya berbincang-bincang dengan para guru di kantor sekolah tersebut, saya memasuki sebuah kelas dan memperhatikan secara dekat aktivitas para siswa dalam belajar. Dan, saya pun mencoba untuk mengakrabkan diri dengan para siswa sambil memberi penjelasan sedikit demi sedikit.

Berkat bimbingan gurunya pun, para siswa di SDN Ciptagelar yang meskipun memang benar-benar terpencil, tapi mereka bisa mengetahui akan perkembangan dunia luar, mereka bisa memahami dengan segala bentuk perubahan dan perkembangan zaman itu sendiri. Rasa keingintahuan para siswa terhadap perkembangan zaman sangat besar.

Senang rasanya saya bisa berbagi keceriaan bersama para siswa di SDN Ciptagelar itu. Mereka memang tinggal di daerah terpencil, jauh dari pusat keramaian kota yang sibuk dengan berbagai aktivitas masing-masing orang, namun begitu, cara berpikir mereka sudah mengglobal, mereka bisa mengetahui perkembangan diluar karena keuletan dan kerajinan mereka belajar. Merekalah yang nantinya akan menjadi generasi penerus cita-cita bangsa dan merubah bangsa ke arah yang lebih baik lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s