Tanggung Jawab Terhadap Resiko


Pagi itu, cuaca di Gorontalo mendung. Kulirik ke arah jarum jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi waktu setempat. Segera aku bergegas untuk mandi dan selanjutnya berangkat menuju ke tempat kerja seperti biasa yang aku lakoni setiap hari semenjak menjadi abdi negara. Untuk menuju ke tempat kerja, aku membutuhkan 2 jam perjalanan. Itupun jika gak ada halangan atau kendala selama di perjalanan.

Pada hari itu, Kamis 7 Juni 2012 aku menuju ke tempat kerja dengan menggunakan sepeda motor. Cuacanya adem, gak terasa panas seperti biasa. Saat itu aku berpikir bahwa akan turun hujan. Betul juga dugaanku, ditengah perjalanan hujan turun begitu deras. Aku mampir sebentar disebuah warung. Sambil menunggu hujan reda, aku mencoba megutak-atik blackberry-ku. Ada beberapa pesan masuk yang harus aku tanggapi. Lumayanlah buat menunggu hujan reda, aku mencoba saling komunikasi dengan beberapa orang.

Tak lama berselang, hujan mulai mereda, namun belum sepenuhnya berhenti. Mengingat keadaan bahwa aku akan telat sampai ke tempat kerja maka saat itu juga aku memaksakan untuk terus berangkat meskipun hujan-hujanan. Toh hujannya tidak terlalu deras, hanya gerimis yang boleh dikatakan lumayan membasahi pakaianku saat itu.

Setelah sampai di tempat kerja, aku diundang oleh atasan. Menghadap ke ruangannya, dan diberikan sebuah surat. Surat undangan yang sifatnya penting yang kemudian aku direkomendasikan untuk menghadiri undangan tersebut. Tercantum dalam undangan tersebut lokasinya di Ruang Pola Kantor Bupati Gorontalo, pukul 9 pagi. Saat itu masih pukul 8 lewat. Agar jangan sampai terlambat, aku segera pamit dan menuju ke Kantor Bupati.

Sampai di Kantor Bupati sekitar pukul 9.30. Namun, aku belum melihat tanda-tanda akan dimulainya sebuah pertemuan yang sifatnya penting seperti yang tertera dalam undangan tersebut. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya pertemuan tersebut dimulai juga pukul 2 siang. Kelamaan juga nunggunya, but it’s no problem. Udah terbiasa menunggu kok (yang penting ada colokan buat nge-chars BB, selesai masalah)

Sidang Indispliner

Kaget bercampur dengan suasana hati yang tak menentu. Begitulah yang aku rasakan ketika Sekda Kabupaten Gorontalo menyampaikan maksud dan tujuan pertemuan tersebut. Aku hanya bisa diam, mencoba tetap tegar dan tersenyum meskipun aku sendiri merasa hambar senyumku saat itu. Jika disamakan dengan roti yang gak dimakan selama 17 hari, mungkin masih senyumku saat itu yang terasa hambar, yang belum aku jamin tikus saja mau memakannya apalagi menatap wajahku.

Saat itu, aku harus menghadiri Sidang Indisipliner atas tindakan pelanggaran disiplin yang aku lakukan sebagai Pegawai Negeri Sipil yang melanggar PP No. 53 tahun 2010 tentang Disiplin PNS. Sidang dipimpin oleh Sekda Kabupaten Gorontalo, kemudian ada juga Kepala BKD Pendidikan dan Pelatihan Kabupaten Gorontalo dan 5 orang lainnya pejabat dari unsur Baperjakat.

SK Bupati Gorontalo tentang Penurunan Pangkat

isi petikan SK penurunan pangkat
isi petikan SK penurunan pangkat

Sidang yang sifatnya tertutup itu sendiri berjalan selama kurang lebih 2 jam dengan berbagai macam pertimbangan. Awalnya, putusan yang diberlakukan terhadap pelanggaran kedisiplinanku adalah pemberhentian sebagai PNS dengan hormat bukan atas permintaan sendiri. Namun entah apa, hingga akhirnya putusan finalnya adalah berupa sanksi penurunan pangkat 1 tingkat selama 3 tahun.

Tanggung Jawab

Jika mau ditanyakan bagaimana keadaanku saat itu, aku ikhlas menerima. Menerima putusan tersebut. Lagian juga putusan sanksi tersebut berdasarkan apa yang aku lakukan. Aku yang melakukan, maka aku juga menerima resikonya. Intinya, tanggung jawab terhadap resiko. Toh hidup selalu banyak pilihan, tergantung kita sendirilah bagaimana menyikapinya.

Selama persidangan, aku cukup tenang dan berusaha untuk tetap santai. Aku berusaha untuk tetap tersenyum. Aku tidak pernah menampakkan bahwa aku lemah menghadapi apa yang harus aku terima. Aku menyesali hal tersebut, tapi untuk apalagi menyesalinya? Untuk saat ini, aku hanya berusaha untuk memperbaiki diri saja, bagaimana untuk menjadi yang terbaik lagi.

Apa yang pernah aku lakukan, disengaja atau tidak disengaja, yang baik maupun yang buruk, bukan untuk aku sesali. Ada banyak hal yang aku sampaikan ketika aku dipersilahkan untuk melakukan pembelaan diri meskipun aku sendiri pada saat sidang berlangsung tanpa pembela seorang pun. Aku harus jelaskan kenapa aku harus melanggar disiplin tersebut. Aku tak perlu melakukan perdebatan ketika beberapa alasan yang aku kemukakan tidak diterima dan ditolak mentah-mentah.

Kenapa Harus Melanggar Disiplin?

Jika ditanyakan secara panjang lebar, kayaknya aku tidak mampu untuk menceritakan kenapa aku harus terlanjur melakukan pelanggaran-pelanggaran. Sulit dijelaskan, dan toh ujung-ujungnya hanya akan dianggap sebagai keluhan semata. Kata anak gaul sekarang, ngelessss gitu deh. Kenapa harus terbongkar hingga masuk ke persidangan? Nampaknya itu yang gak bisa aku pungkiri, bahwa aku melakukan sebuah kesalahan.

Keluar daerah tanpa alasan yang jelas selama 10 hari berturut. Saat itu, akhir bulan Mei 2012 aku berangkat ke Jakarta untuk menonton tour pertandingan sepakbola Inter Milan yang merupakan klub favoritku yang kebetulan bertandang ke Indonesia dalam rangkaian Inter Indonesia Tour 2012. Awalnya misiku ini gak terbongkar, gak ada yang tahu. Akan tetapi, setelah wajahku hampir nongkrong di semua stasiun TV nasional saat diwawancarai akan kedatangan Inter Milan ke Indonesia, maka dari situlah semua terbuka.

yowessss…. sekarang bukan saatnya untuk menyesali semua kejadian tersebut, semua sudah dilewati dan aku harus menjalaninya.

Mengawali karir sebagai abdi negara dari pangkat terendah, dengan potongan gaji yang cukup lumayan juga hingga tahun 2015. Aku menganggap ini sebuah kegagalan yang fatal, kegagalan yang tak harus aku sesali, akan tetapi jadi sebuah cambuk motivasi bahwa aku harus bangkit lagi untuk terus melangkah meskipun dari tangga terbawah sekalipun. Aku mencoba mengambil banyak hikmah dari kejadian ini. Kelak nantinya hal ini juga akan jadi kisah klasik dimasa depan, untuk jadi bagian sejarahku tersendiri kepada anak cucuku nanti bahwa aku pernah gagal namun tetap bangkit menatap ke depan, bahwa inilah aku yang tidak pernah mengenal menyerah hingga titik darah penghabisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s