This Is Saturday Night…


Jarum jam saat itu menunjukan pukul 22.00 dan aku masih duduk terdiam di kamar hotel, menikmati setiap hembusan asap rokok yang keluar. Malam itu, entah beban apa yang merasuki pikiranku, hingga aku hanya bisa berdiam diri dan merenungi yang entahlah apa itu. Saya tidak tahu.

Sementara itu, diluar hujan turun begitu deras. Menghantam perlahan setiap apa yang dijatuhinya, mengungkapkan beragam fenomena akan kerinduan, yang sudah tak terbendungkan. Hujan turun selalu menghadirkan suasana tersendiri, yang terkadang sulit terjamah oleh kata-kata lagi.

Segera ku ambil handphone dan menghubungi seorang teman. Setelah dia memastikan bisa menjemputku, aku segera berkemas dan menuju ke Waroeng Charity, untuk makan malam sebentar dan menemui seorang teman. Beberapa saat kemudian, teman datang menjemput.

Suasana jalan Manado di malam minggu agak lenggang, gak seperti biasanya yang macetnya minta ampun. Honda Jazz yang dikemudikan Aldi melaju dengan kencang. Tujuan pertamaku menuju ke Mawar Sharon yang terletak dikawasan Mega Mass Manado. Menjemput teman cewek yang sebelumnya sudah kuajak janjian ketemuan.

Kita memang belum pernah ketemu, hanya saja selama ini akrab di twitter dan BBM. Aku janji, jika ke Manado pasti datang menemuinya, mengajaknya dinner, atau mengajaknya nonton. Oh ya, aku kenalin ya, namanya Martine Paulina Rompas, biasa dia dipanggil Ine. Setelah basa-basi sebentar, aku segera mengajaknya masuk ke mobil, dikenalin ke teman-teman lain yang saat itu jalan bareng aku.

steven polapa & martine paulina

Diluar, hujan perlahan mereda, dan suasana dingin mulai merasuki tubuh. Belum lagi suasana cafe yang dekat dengan pantai. Disana, aku merasakan sedikit aroma keromantisan, yang entah kenapa datangnya tiba-tiba. Kalau dipikir, ini bukan tempat yang cocok untuk menikmati suasana romantisan dengan cewek. Hingar bingar alunan musik dari DJ yang begitu keras, belum lagi aroma beer yang begitu menusuk. Kesan awal didapatkan. Ya, sebuah kesan. Karena disini kita menciptakan kesan.

Untuk pertama kalinya, dalam sejarah hidupku, aku mengajak cewek ketemuan di sebuah cafe, dengan pesanan minuman beer. Sengaja dan memang sengaja. Setidaknya, aku berharap ada kesan yang didapatkannya disitu. Aku gak mau sok munafiklah, ngaku-ngaku didepan cewek bukan cowok yang suka minum beer, gak suka merokok. Oh, bukan gue banget. Aku maunya, dikenal dari awal gimana sosok dan karakterku sebenarnya.

Ngapain kita ngajak cewek ketemuan, terus mentraktir dia, dengan balutan suasana candle light dinner, tapi sebenarnya beban kita tersiksa, gak suka dengan suasana seperti itu. Oupss, be u’r self brother. Ntar yang tercipta malah suasana yang benar-benar dipaksakan, gak seperti kemauanmu.

Aku mau jujur, sebenarnya aku punya rasa terhadap si cewek ini, namun aku gak pengen mengganggu suasana kenyamannya menikmati party malam itu, aku gak mau merusaknya dengan ungkapan perasaan itu. Jikalau pun toh kita punya kesempatan dilain waktu, untuk saling berbicara dari hati ke hati, tentang apa yang sebenarnya kita rasakan, pastilah kita punya porsi untuk kesempatan itu.

Namun, kita terpisahkan ruang dan waktu, dan hanya kuasa-Nyalah mungkin suatu ketika, ruang dan waktu itu bukanlah sebuah penghalang, bukanlah sebuah kendala. Itu saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s