surat untuk jodohku


dear you, entahlah siapa saja. surat ini sengaja akan aku tulis dengan huruf kecil semua, tanpa harus menggunakan huruf besar karena aku sendiri merasa bahwa aku hanyalah orang kecil yang tidak punya apa-apa, tapi aku hanya punya rasa cinta, cinta yang teramat besar jika dibandingkan dengan hal-hal picisan lainnya.
surat ini, hanya akan kutujukan kepada seseorang yang kelak bisa menerima cintaku secara tulus dan apa adanya, kepada orang yang tidak begitu sempurnya, tapi bisa aku cintai secara sempurna. kepada orang yang setiap siang dan malamnya akan menyandarkan kepalanya dipundakku ketika merasa lemah, kepada seseorang yang akan selalu berbagi cerita bahagianya.
siapa dia, untuk saat ini itu masih rahasia. bukan rahasiaku tapi rahasia-nya sang maha kuasa (maaf, namamu aku tulis kecil-kecil). suatu ketika, aku percaya akan menemukannya, entah disekitarku atau malah jauh dari tempatku. itu tidak jadi masalah. apalah arti sebuah cinta jika jarak yang dipermasalahkan. selama ada komitmen untuk saling menjalin hubungan bersama, kenapa tidak harus berlandaskan pada rasa saling pengertian dan tentunya saling mencintai juga.
dear you, tahu nggak, beberapa waktu silam, aku pernah mencintai seseorang yang bagiku begitu teramat berharga. saking berharganya dia, aku menjadi egois, bahkan aku lebih mementingkan egoku sendiri dibandingkan emosi dan logika sendiri, hingga akhirnya aku terjebak dalam sebuah lingkaran dan merasa aku sangatlah bodoh.
4 tahun aku mencintainya, semenjak masuk kuliah hingga diwisuda, tapi cintaku tak pernah terbalaskan. hingga akhirnya disuatu ketika, disuatu waktu yang takkan terlupakan, akhirnya dia menerima cintaku apa adanya. sayangnya, disaat dia menerima cintaku, fisiknya tidak seperti 4 tahun silam ketika aku mencintainya. tapi, bagiku itu bukanlah masalah, karena aku mencintainya secara totalitas, secara keseluruhan. bukan hanya berdasarkan fisiknya tapi hatinya juga yang telah memberikan kepadaku tentang sebuah kesempatan menikmati cinta.
sebulan menjalin hubungan, tepatnya saat bulan suci ramadhan, dia harus menjalani perawatan di sebuah rumah sakit disudut kotaku. selama seminggu berada dirumah sakit, akhirnya dia menghembuskan nafasnya. saat dia menutup usia, aku tidak berada disampingnya. butuh 2 jam perjalanan lamanya, aku harus menemuinya untuk terakhir kalinya dan menyempatkan untuk mencium keningnya dihadapan orang tuanya. itulah ciumanku yang pertama kalinya sekaligus ciuman terakhir semenjak aku mengenalnya dari bangku kuliah dulu.
sebulan, hingga akhirnya setahun kemudian, aku benar-benar tegas. dan inilah pilihanku, bahwa aku harus benar-benar ikhlas melupakannya. ku coba untuk mencari cinta lain, cinta yang apa adanya, cinta yang tulus. semakin aku mencari, aku tidak pernah menemukan. tapi aku terus mencari dan terus mencari. akhirnya, aku hanya menemukan sebuah kehampaan, sebuah kesepian akan kesendirian benar-benar aku rasakan. tapi aku tidak pernah menyerah.
selama menjalani profesi sebagai jurnalis, aku malah terlalu disibukan dengan kerjaan, sempat terpikirkan untuk mencari cinta itu lagi, tapi tuntutan kerjaan sekaligus tuntutan agar dapur kontrakan tetap berasap, maka aku fokus saja pada kerjaan. selama kurang lebih 4 tahun aku menjalani profesi sebagai jurnalis, tak satupun cinta yang berhasil kutaklukan (meskipun aku sendiri terus mencari) tapi hanya rasa sakit sajalah yang aku dapatkan. dibalik semua itu, aku mendapatkan berbagai pengalaman menarik dan pelajaran yang sangat berharga.
suatu ketika, aku harus meninggalkan profesi sebagai jurnalis dan menjadi abdi negara (awalnya karena tuntutan orang tua, namun lama kelamaan aku harus menjalaninya juga meskipun aku sendiri tidak menyukainya). inilah konsekuensi hidup yang terus aku pertahankan hingga kini. sebuah prinsip yang aku anut. apapun itu, aku terus berjuang untuk menaklukannya. bukannya aku gak mau dikatakan pecundang, tapi aku sendiria adalah tipikal sebagai petarung yang mampu mengalahkan berbagai rintangan dan halangan.
aku tahu, begitu banyak kekuranganku, terutama dalam hal mencari cinta. tidak begitu banyak yang bisa aku andalkan. aku hanyalah anak seorang petani, ayahku bukanlah pejabat negara. tapi aku punya mimpi yang aku yakini bisa aku kabulkan dengan semangat kerja kerasku. aku percaya hal tersebut.
dear you, ketika aku menentukan pilihan mencintaimu, itu karena aku mencintaimu, tanpa alasan yang harus aku jelaskan, karena aku sendiri takkan pernah bisa menjawabnya. mungkin, kedengarannya hanyalah sebuah omong kosong belaka jika aku mencintaimu karena ini dan itu atau sebab lainnya, tapi inilah aku, orang yang berani menentukan pilihan meskipun sering tersakiti. semakin aku tersakiti karena cinta, maka semakin pula aku merasa bahwa disakiti itu tidaklah menyakitkan lagi.
berbicara tentang cinta pertama, mungkin gak ada yang bisa aku banggakan. aku mengenal cinta semenjak duduk dibangku kelas 3 sma saat aku berusia 18 tahun, itupun tidaklah patut diceritakan karena gak ada yang pantas dibanggakan disana. nanti semenjak aku masuk kuliah, disanalah aku mengenal cinta itu.
kenapa aku nanti kelas 3 sma harus merasakan jatuh cinta? sebenarnya, sudah lama aku merasakannya. namun karena aku sendiri hidup dalam pengekangan dan berbagai larangan orang tua yang begitu protektif, aku tidak dapat berekspresi lebih banyak.
dear you, ketika aku memilih untuk mencintaimu saat ini, bukannya aku tidak berharap dan atau berharap lebih. tapi, aku yakin kamu bisa menentukan pilihan, apa siap tidak untuk memberikan kesempatan padaku untuk saling berbagi cinta, saling berbagi pengertian dan kasih sayang. persoalan belakangan kita berasal dari mana, rasa mana, golongan mana. tapi kalau kita sudah dipersatukan atas nama cinta, kenapa tidak kita bisa menyatukan atau menyeragamkan berbagai karakter kita yang berbeda-beda? kenapa tidak?
jika permasalahan jarak jadi kendala, ada solusi yang bisa kita pecahkan bersama-sama. ada berbagai macam saran dan fasilitas yang kita pergunakan. kita akan tetap saling dipersatukan jika kita percaya bahwa kita siap untuk hidup bersama.
dear you, surat untuk jodohku ini aku tulis dengan penuh rasa cinta dengan suasana dingin disaat hujan sementara membasahi bumi pada seperempat malam, disaat semua orang sementara bergerilya dengan mimpi-mimpinya, disaat orang-orang sudah melupakan apa yang telah mereka kerjakan kemarin dan hendak apa mereka keesokan harinya.
jika kamu berkenan, kita akan jalani hubungan ini, hingga suatu ketika aku dengan bangganya mengungkapkan, “ku pinang kau dengan bismillah” untuk menunaikan sunnah rasul, untuk meneruskan keturunan hingga kita bisa bermain bersama anak-anak kita yang lucu dan imut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s